Haluannews Ekonomi – Pasar keuangan Indonesia tengah menghadapi badai ganda yang memicu tekanan signifikan pada Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dan nilai tukar Rupiah. Pada perdagangan Rabu (13/05), IHSG terperosok ke level 6.700-an, sementara Rupiah mencatat rekor terendah sepanjang sejarah, menyentuh Rp 17.530 per Dolar AS. Kondisi ini tak lepas dari keputusan Morgan Stanley Capital International (MSCI) yang mengeluarkan 18 saham emiten domestik dari daftar indeksnya, diperparah oleh gejolak geopolitik di Timur Tengah yang tak kunjung usai.

Related Post
Keputusan MSCI untuk merebalancing indeksnya dengan mendepak sejumlah saham Indonesia telah memicu gelombang capital outflow yang masif. Bernadus Wijaya, Chief Executive Officer Sucor Sekuritas, mengungkapkan bahwa penarikan modal asing dari pasar saham RI telah mencapai angka fantastis, Rp 50 triliun secara year-to-date. Angka ini menjadi indikator kuat di balik pelemahan IHSG yang terus berlanjut.

Di panggung global, konflik di Timur Tengah terus membayangi prospek ekonomi. Lonjakan harga energi dan pangan global akibat ketegangan ini telah memicu inflasi di berbagai negara, bahkan meningkatkan risiko resesi di ekonomi raksasa seperti Amerika Serikat. Bagi Indonesia, dampak perang ini berpotensi menekan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) secara substansial. Ketergantungan tinggi Indonesia pada impor Bahan Bakar Minyak (BBM) dan Liquefied Petroleum Gas (LPG) berarti pemerintah harus menanggung beban subsidi energi yang membengkak seiring kenaikan harga komoditas global.
Meski demikian, Bernadus Wijaya tetap optimis terhadap fundamental ekonomi Indonesia. Ia meyakini bahwa Indonesia tidak akan terdegradasi dari status emerging market menuju frontier market, mengingat kekuatan ekonomi domestik yang masih solid. Namun, Bernadus menegaskan bahwa pasar menanti aksi nyata dan konkret dari pemerintah, otoritas bursa, dan otoritas moneter. Langkah-langkah strategis sangat krusial untuk menjaga kepercayaan investor dan memastikan stabilitas pengelolaan APBN di tengah ketidakpastian global dan domestik.
Analisa mendalam mengenai dinamika tekanan di pasar keuangan RI ini sempat dibahas dalam dialog eksklusif Shania Alatas bersama Bernadus Wijaya di program Power Lunch, Haluannews.id pada Rabu (13/05).
Editor: Rohman









Tinggalkan komentar