Haluannews Ekonomi – Saham produsen perhiasan global terkemuka asal Denmark, Pandora, mengalami penurunan drastis hingga hampir 7% pada perdagangan Selasa sore. Anjloknya harga saham ini dipicu oleh kekhawatiran ganda dari lonjakan harga perak dan sikap konsumen yang semakin berhati-hati di tengah kondisi ekonomi makro yang menantang.

Related Post
Penurunan tajam 6,7% ini memutus tren penguatan dua hari sebelumnya dan memperburuk kinerja saham Pandora yang telah merosot 46% sepanjang tahun 2025 dan 26% sejak awal tahun 2026.

Analis dari Jefferies segera merespons dengan menurunkan peringkat saham Pandora dari ‘Buy’ menjadi ‘Hold’. Mereka menyoroti posisi sulit perusahaan akibat tekanan ekonomi makro dan fluktuasi harga bahan baku. "Pertemuan antara konsumen yang lebih tertekan dan tingginya harga perak membuat bisnis ini terjepit," ujar analis Jefferies dalam risetnya yang dikutip Haluannews.id pada Rabu (4/2/2026).
Lonjakan harga perak menjadi beban utama yang menggerus margin keuntungan Pandora. Meskipun sempat ada koreksi harga perak baru-baru ini, harganya tetap bertahan hampir tiga kali lipat lebih tinggi dibandingkan setahun lalu. Berdasarkan proyeksi Jefferies, kondisi ini berpotensi memangkas laba perusahaan hingga 60% pada tahun 2027, menempatkan Pandora dalam bahaya jangka panjang. "Masalah paling berbahaya adalah keraguan jangka panjang investor untuk terlibat, mengingat pergerakan harga perak. Ini berarti, meskipun harga perak turun dan saham naik karena momentum pendapatan mekanis, keterlibatan investor akan lambat untuk kembali," tambah Jefferies.
Jefferies juga memangkas target harga saham Pandora secara signifikan, dari 850 krone Denmark menjadi 530 krone Denmark, atau sekitar US$84 (sekitar Rp1.411.200). "Dengan harga perak yang kini berfluktuasi, kami enggan mendukung rekomendasi aktif yang tunduk pada situasi khusus dan masukan yang volatil," tegas analis. Mereka juga meragukan efektivitas peralihan ke pelapis perak atau baja tahan karat karena kompleksitas manufaktur dan potensi penurunan daya tarik bagi pelanggan.
Tekanan ini diperparah oleh fenomena ekonomi berbentuk K (K-shaped economy), di mana kelompok pelanggan inti Pandora yang berpenghasilan rendah semakin kesulitan menghadapi kenaikan biaya hidup. Sebagai respons terhadap kenaikan biaya input, Pandora sebenarnya telah menaikkan harga produknya sekitar 14%. Namun, langkah ini justru berbalik merugikan, mengurangi minat beli konsumen.
Analis Citi, yang sebelumnya telah menurunkan peringkat saham Pandora menjadi ‘Netral’ pada Januari, juga menyoroti risiko "kelelahan konsumsi perhiasan". "Visibilitas jangka pendek telah berkurang drastis, diperparah oleh lingkungan makro yang volatil di AS dan Eropa (sekitar 80% dari penjualan) serta potensi kelelahan merek dan konsumsi perhiasan," jelas mereka.
Di pasar komoditas, harga perak sendiri sempat mengalami hari terburuknya sejak 1980 pada Jumat lalu, menyusul pengumuman Presiden AS Donald Trump mengenai pencalonan Kevin Warsh sebagai Ketua Federal Reserve (Fed) berikutnya. Langkah ini meredakan kekhawatiran atas independensi bank sentral yang sebelumnya memicu pelarian investor ke aset aman seperti logam mulia.
Editor: Rohman










Tinggalkan komentar