Mengejutkan Anak Presiden Ajak Warga Buang Dolar

Mengejutkan Anak Presiden Ajak Warga Buang Dolar

haluannews.id – Tahun 1998 menjadi salah satu periode paling kelam dalam sejarah ekonomi Indonesia. Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) anjlok drastis, bahkan sempat menyentuh angka Rp 18.000. Di tengah gejolak yang mencekam ini, sebuah inisiatif tak terduga muncul dari putri sulung Presiden Soeharto, Siti Hardijanti Rukmana, yang akrab disapa Tutut Soeharto. Ia menggagas sebuah gerakan nasional yang bertujuan mulia: menyelamatkan rupiah dari jurang kehancuran.

COLLABMEDIANET

Kondisi ekonomi Indonesia kala itu memang sedang di ujung tanduk. Berawal dari krisis mata uang Baht Thailand pada pertengahan 1997, gelombang kejatuhan ekonomi merambat cepat ke seluruh Asia, termasuk Tanah Air. Rupiah yang sebelumnya stabil di kisaran Rp2.000 per dolar AS, tiba-tiba merosot tajam hingga Rp10.000-Rp12.000 per dolar AS. Melihat situasi genting ini, pada Januari 1998, Tutut Soeharto meluncurkan "Gerakan Cinta Rupiah" atau Getar. Tujuannya sederhana namun ambisius: mendorong masyarakat untuk menukarkan simpanan dolar AS mereka ke rupiah, demi memperkuat mata uang nasional dan mengembalikan kepercayaan publik terhadap ekonomi.

Mengejutkan Anak Presiden Ajak Warga Buang Dolar
Gambar Istimewa : awsimages.detik.net.id

Tutut tak hanya beretorika. Ia memberikan contoh langsung dengan menukarkan US$50.000 dari dana pribadinya ke rupiah. Baginya, langkah ini bukan sekadar upaya ekonomi, melainkan juga manifestasi rasa cinta terhadap Indonesia. Aksi nyata ini sontak menggetarkan dan memicu respons dari berbagai kalangan.

Tak butuh waktu lama, sejumlah tokoh penting negara pun turut serta dalam gerakan ini. Anggota Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR) berbondong-bondong mendatangi bank untuk menukar dolar AS yang mereka miliki. Salah satu nama yang mencuat adalah Susilo Bambang Yudhoyono, yang saat itu menjabat sebagai anggota MPR Fraksi ABRI. Ia tercatat menukarkan US$1.300. Selain itu, para pejabat tinggi ekonomi seperti Menteri Keuangan Mar’ie Muhammad dan Gubernur Bank Indonesia Soedradjad Djiwandono juga ikut berpartisipasi, menyumbangkan dolar AS mereka demi rupiah. Dari aksi kolektif ini, dana awal yang terkumpul di Bank Indonesia mencapai sekitar US$650.000.

Gelombang dukungan tak berhenti di kalangan pejabat. Para pengusaha kakap Indonesia juga ikut ambil bagian dalam Gerakan Cinta Rupiah. Nama-nama besar seperti Aburizal Bakrie, The Ning King, dan Imam Taufik masing-masing menyumbangkan US$100.000, menjadi kontributor individu terbesar kala itu. Menyusul mereka, pengusaha Sukamdani Sahid Gitosardjono juga menukarkan US$50.100 dan bahkan merelakan 1 kilogram emas miliknya untuk pemerintah. Tutut Soeharto sendiri kembali menambah kontribusinya dengan menyerahkan 2 kilogram emas. Gerakan ini pun meluas, menjangkau masyarakat dari berbagai lapisan profesi.

Namun, euforia Getar tak berlangsung lama. Hanya dalam beberapa minggu, kritik mulai bermunculan. Sejumlah pengamat ekonomi meragukan efektivitas gerakan ini. Pengusaha Fahmi Idris, misalnya, secara terang-terangan menyatakan bahwa dana yang terkumpul, yang diperkirakan tidak lebih dari US$5 juta, terlalu kecil untuk mengatasi krisis yang membutuhkan miliaran dolar AS. "Ini tak akan menyelesaikan masalah," ujarnya kala itu.

Kritik tersebut sayangnya terbukti benar. Gerakan Cinta Rupiah gagal membendung laju pelemahan rupiah. Nilai tukar mata uang nasional terus merosot dalam bulan-bulan berikutnya, memicu lonjakan harga kebutuhan pokok dan memperparah penderitaan rakyat. Puncaknya, pada Mei 1998, krisis ekonomi bereskalasi menjadi krisis sosial dan politik yang memicu kerusuhan massal di berbagai daerah. Peristiwa tragis ini berujung pada pengunduran diri Presiden Soeharto pada 21 Mei 1998, setelah lebih dari tiga dekade berkuasa. Gerakan Cinta Rupiah, meski dilandasi niat baik, tak mampu mengubah takdir sejarah.

Jika keberatan atau harus diedit baik Artikel maupun foto Silahkan Laporkan! Terima Kasih

Tags:

Ikutikami :

Tinggalkan komentar