Haluannews Ekonomi – Bank Sentral Rusia membuat kejutan pasar dengan memangkas suku bunga acuannya 100 basis poin menjadi 20% pada Jumat (6/6/2025). Ini merupakan penurunan pertama sejak September 2022, menandai potensi pelonggaran tekanan inflasi yang sebelumnya disebut Presiden Vladimir Putin sebagai "mengkhawatirkan". Keputusan ini diambil meskipun pertumbuhan ekonomi Rusia masih didorong sektor pertahanan dan belanja negara, bukan aktivitas ekonomi yang merata.

Related Post
Bank Sentral Rusia menyatakan bahwa pertumbuhan permintaan domestik masih melampaui kemampuan penawaran barang dan jasa. Inflasi tahunan April tercatat 6,2%, turun dari rata-rata 8,2% pada kuartal I 2025. Namun, bank sentral menegaskan komitmennya untuk menjaga kebijakan moneter ketat guna mencapai target inflasi 4%. Langkah ini juga diambil di tengah kekhawatiran melambatnya pertumbuhan ekonomi, yang hanya mencapai 1,4% pada kuartal I 2025, melambat dari 4,5% di akhir 2024. Menteri Ekonomi Rusia, Maxim Reshetnikov, sebelumnya telah mendesak penurunan suku bunga.

Situasi geopolitik yang belum menentu, dengan perang Rusia-Ukraina yang masih berlangsung, turut mewarnai keputusan ini. Harapan akan gencatan senjata jangka panjang yang ditengahi Presiden AS Donald Trump tampak memudar. Ironisnya, di tengah ketidakpastian ini, rubel justru menjadi mata uang dengan kinerja terbaik di dunia pada 2025. Bank of America menyebut hal ini disebabkan oleh kontrol modal yang ketat, pengetatan kebijakan moneter, dan pelemahan dolar AS. Meskipun demikian, dolar AS masih menguat 2,72% terhadap rubel pada hari pengumuman penurunan suku bunga.
Analis dari Capital Economics, Nicholas Farr, menilai penurunan suku bunga sebagai kejutan dan memproyeksikan suku bunga akan turun ke 17% pada akhir tahun ini. Namun, ia menekankan bahwa ketidakseimbangan antara permintaan dan penawaran akibat perang mengharuskan suku bunga tetap berada di wilayah restriktif. Pertanyaannya, mampukah Rusia menyeimbangkan upaya pengendalian inflasi dengan menjaga pertumbuhan ekonomi di tengah gejolak geopolitik? Jawabannya masih menjadi tantangan tersendiri bagi perekonomian Negeri Beruang Merah tersebut.
Editor: Rohman










Tinggalkan komentar