haluannews.id – Pasar modal Indonesia menghadapi hari yang berat pada Selasa 28 Juni 2026. Indeks Harga Saham Gabungan IHSG tak mampu membendung tekanan jual investor dan akhirnya ditutup melemah signifikan di sesi kedua perdagangan. Sebelumnya, pada sesi pertama, IHSG sempat menunjukkan ketahanan di tengah gejolak bursa Asia dan pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat.

Related Post
Berdasarkan data terkini dari Bursa Efek Indonesia, IHSG mengakhiri perdagangan di level 6.130,59, anjlok 55,19 poin atau setara dengan 0,89%. Pergerakan ini mencerminkan dominasi sentimen negatif, di mana 380 saham mengalami penurunan, sementara hanya 281 saham yang berhasil menguat, dan 304 saham lainnya tidak bergerak.

Tekanan jual ini terjadi di tengah aktivitas pasar yang relatif sepi. Total nilai transaksi hanya mencapai Rp 10,7 triliun, melibatkan perputaran 23,6 miliar saham dalam 1,65 juta kali transaksi. Akibatnya, kapitalisasi pasar turut terkikis, menyusut menjadi Rp 10.752 triliun. Sepanjang hari, IHSG sempat mencoba bangkit dan bergerak di rentang 6.130,59 hingga 6.199,44, bahkan sempat menguat tipis 0,2% sebelum akhirnya kehilangan momentum dan terperosok.
Hanya satu sektor yang mampu menunjukkan sedikit ketahanan, yakni sektor konsumer primer, yang nyaris tidak terpengaruh dengan penurunan sangat tipis 0,09%. Sebaliknya, sektor properti menjadi beban terberat bagi IHSG sepanjang hari, ambruk 4,49%. Tak hanya itu, sektor utilitas juga tertekan dalam dengan koreksi 2,17%, diikuti oleh sektor energi yang turun 1,15%.
Penurunan tajam di sektor properti tak lepas dari kontribusi negatif saham Maha Properti Indonesia MPRO, yang menjadi pemberat terbesar IHSG dengan sumbangan -8,2 poin. Emiten perbankan raksasa juga tak luput dari koreksi. Saham Bank Central Asia BBCA menyumbang -7,47 poin dan Bank Mandiri BMRI berkontribusi -5,53 poin terhadap pelemahan indeks. Beberapa saham lain yang turut masuk daftar pemberat utama hari ini meliputi Sinar Mas Multiartha SMMA, Mora Telematika Indonesia MORA, Energi Mega Persada ENRG, dan VKTR Teknologi Mobilitas VKTR. Sementara itu, tidak ada saham yang memberikan dorongan signifikan di daftar penggerak utama.
Koreksi IHSG sejalan dengan kondisi nilai tukar rupiah yang tak berdaya menghadapi kekuatan dolar Amerika Serikat. Mata uang Garuda kembali ditutup melemah terhadap greenback, mengakhiri perdagangan di posisi Rp18.055 per dolar AS, terdepresiasi 0,31%. Ini menandai pelemahan rupiah selama empat hari perdagangan berturut-turut. Rupiah bahkan sempat menyentuh level terlemahnya hari ini di Rp18.095 per dolar AS. Indeks dolar AS DXY sendiri terpantau menguat tipis 0,01% pada pukul 15.00 WIB.
Sentimen negatif tak hanya melanda pasar domestik, melainkan juga menyapu bersih bursa-bursa utama di Asia. Mayoritas pasar saham regional ambruk hari ini. Kospi di Korea Selatan bahkan sempat mengalami penghentian perdagangan sementara setelah anjlok lebih dari 8%, dan akhirnya ditutup terjun bebas 10,84%. Bursa Taiwan juga terpuruk 4,65%, Shenzen di China kehilangan 4,52%, dan Nikkei di Jepang melemah 3,95%.










Tinggalkan komentar