Haluannews Ekonomi – PT Humpus Intermoda Transportasi Tbk (HITS), emiten yang berafiliasi dengan Tommy Soeharto, berencana melakukan aksi korporasi yang mengejutkan pasar: go private dan delisting. Haluannews.id mengungkap, PT Joyo Agung Permata, pemegang saham mayoritas HITS, telah menetapkan harga tender offer sebesar Rp 328 per saham. Harga ini terbilang premium, mencapai 183% di atas harga terakhir HITS sebelum suspensi bursa, yakni Rp 116 per saham. Keputusan ini tentu menarik perhatian pelaku pasar modal.

Related Post
Informasi ini disampaikan melalui keterbukaan informasi di Bursa Efek Indonesia (BEI). Dalam pengumumannya, PT Joyo Agung Permata menyatakan harga penawaran tersebut lebih tinggi dari rata-rata harga tertinggi perdagangan harian di BEI dalam 90 hari sebelum pengumuman RUPSLB perubahan status perseroan.

Rencana go private dan delisting HITS sebenarnya telah diumumkan sejak 10 April 2025. Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa Independen (RUPSLB) yang dijadwalkan pada 21 Mei 2025, akhirnya ditunda dan akan digelar pada 2 Juni 2025 pukul 14.00 WIB di Ruang Sapphire, Artotel Suites Mangkuluhur.
Manajemen HITS menjelaskan sejumlah pertimbangan di balik rencana ini. Perubahan strategi bisnis grup perusahaan menjadi faktor utama. Kegiatan usaha utama grup kini lebih banyak ditopang oleh anak usaha, PT Humpuss Maritim Internasional Tbk. Oleh karena itu, HITS menilai tidak lagi membutuhkan pendanaan dari pasar modal dan tidak memiliki rencana penggalangan dana di masa depan.
Alasan lain adalah keinginan untuk lebih fokus pada pengelolaan portofolio investasi dan aset tanpa tekanan volatilitas harga saham. Manajemen juga ingin meningkatkan fleksibilitas operasional, termasuk efisiensi, pengembangan bisnis, dan restrukturisasi. Terakhir, dengan kondisi arus kas yang ada, HITS menilai tidak mampu lagi memberikan dividen kepada pemegang saham.
Langkah HITS ini tentu akan memicu spekulasi di pasar. Apakah harga tender offer yang ditawarkan sudah optimal? Bagaimana respon pemegang saham minoritas? Pertanyaan-pertanyaan ini masih menunggu jawaban. Yang jelas, aksi korporasi ini menjadi sorotan menarik di tengah dinamika pasar modal Indonesia.
Editor: Rohman










Tinggalkan komentar