haluannews.id – Pasar saham Korea Selatan baru-baru ini menjadi sorotan tajam setelah nilai kapitalisasinya menguap hingga sekitar US$1 triliun atau setara Rp18.076 triliun sejak mencapai puncaknya pada Juni lalu. Meski demikian, bursa Negeri Ginseng ini tetap memegang peranan krusial sebagai barometer utama bagi investor global yang ingin memahami arah investasi di sektor kecerdasan buatan (AI) dan semikonduktor dunia.

Related Post
Melansir laporan Fortune, pasar saham Korea Selatan, yang kini bernilai sekitar US$4 triliun, kian menarik perhatian investor global. Peningkatan ini tak lepas dari dominasi saham-saham AI, terutama dari raksasa teknologi seperti Samsung Electronics Co. dan SK Hynix Inc. Pergerakan dua emiten chip terkemuka ini kini bahkan dianggap mampu membentuk sentimen perdagangan saham teknologi dan semikonduktor di berbagai bursa internasional. Pergeseran dinamika ini telah mengubah pola investasi global secara signifikan. Sebagai contoh, Kepala Strategi Pasar Asia JPMorgan Asset Management untuk pertama kalinya dalam 14 tahun terakhir mempresentasikan pasar Korea kepada tim globalnya, sementara investor Jepang mulai memasukkan indeks Kospi ke dalam daftar pantauan utama mereka. Hani Redha, Manajer Portofolio PineBridge Investments, menegaskan bahwa investor tidak bisa lagi mengabaikan pasar Korea dalam membaca tren saham AI. Menurutnya, pemantauan pasar berlangsung hampir 24 jam penuh, mulai dari perdagangan di Seoul hingga saham depositary receipts (ADR) SK Hynix dan ETF berbasis Korea yang diperdagangkan di New York.

Di balik pengaruhnya yang kian besar, Kospi juga dikenal sebagai salah satu indeks utama dengan volatilitas tertinggi di dunia. Tingginya aktivitas perdagangan dengan leverage memperbesar fluktuasi harga, sementara pencatatan SK Hynix di bursa Amerika Serikat membuat dampak pergerakan pasar Korea terasa hingga Wall Street. Tekanan terhadap saham-saham AI kembali mencuat pekan lalu menyusul terobosan tak terduga dari sebuah perusahaan rintisan AI asal Tiongkok. Inovasi ini menimbulkan keraguan terhadap besarnya belanja modal di sektor tersebut, memicu aksi jual saham semikonduktor global, dan berpotensi menekan pasar Korea saat kembali dibuka setelah libur panjang. Sentimen negatif terkait prospek permintaan AI pada Senin pekan lalu bahkan memicu koreksi hampir 9% pada indeks Kospi. Pelemahan ini kemudian merembet ke Wall Street, di mana saham SK Hynix yang terdaftar di AS anjlok 9,3% dan menyeret saham-saham chip besar lainnya.
Data yang dihimpun Bloomberg menunjukkan bahwa keterkaitan 60 hari antara Kospi dan Nasdaq 100 telah melonjak menjadi 0,46. Angka ini mendekati level tertinggi dalam dua tahun terakhir dan hampir tiga kali lipat lebih tinggi dibandingkan rata-rata lima tahunnya yang sebesar 0,16. Ivan Feinseth, Chief Investment Officer Tigress Financial Partners, menilai bahwa Korea kini telah menjadi bagian integral dari ekosistem volatilitas yang sama dengan Nasdaq dan Philadelphia Semiconductor Index (SOX). Baginya, pergerakan SK Hynix, Samsung, dan Kospi kini berfungsi sebagai indikator awal risiko investasi AI dan semikonduktor di Amerika Serikat. Pengaruh pasar Korea bahkan terasa lebih kuat saat terjadi pelemahan. Sensitivitas Nasdaq 100 terhadap pergerakan Kospi ketika pasar Korea turun mencapai level tertinggi sejak 1990 pada 7 Juli lalu, sementara ukuran serupa untuk MSCI World Index juga melonjak ke level tertinggi dalam empat tahun. Keterkaitan ini juga meningkat dengan pasar Jepang. Korelasi antara Kospi dan Nikkei 225 melonjak tajam, mendorong Andrew Jackson, Head of Japan Equity Strategy Ortus Advisors, untuk pertama kalinya dalam lebih dari dua dekade memasukkan grafik Kospi sebagai indikator yang dipantau secara rutin.
Herald van der Linde, Head of Equity Strategy Asia Pacific HSBC Holdings Plc, mengungkapkan bahwa Korea kini menjadi topik pembahasan di hampir setiap pertemuan investor. Senada, Tai Hui, Chief Market Strategist Asia Pacific JPMorgan Asset Management, mengakui baru tahun ini mulai mempresentasikan pasar Korea kepada tim globalnya. Meskipun demikian, pengaruh Korea berpotensi menyusut jika aksi jual terus berlanjut. Sejak mencapai puncaknya pada Juni, indeks Kospi telah merosot 25%, menghapus kapitalisasi pasar sekitar US$1 triliun, sementara nilai pasar Samsung dan SK Hynix masing-masing telah turun lebih dari 30%. Untuk meredam spekulasi dan volatilitas, pemerintah Korea Selatan juga memutuskan menghentikan sementara penerbitan produk ETF leverage berbasis saham tunggal. Langkah ini diharapkan dapat mengurangi gejolak pasar yang selama ini memperbesar pergerakan harga.
Kendati menghadapi tekanan, Kospi masih mencatat kenaikan impresif sebesar 62% sepanjang tahun berjalan, menjadikannya salah satu indeks berkinerja terbaik di dunia. Dengan peran vital Samsung dan SK Hynix dalam rantai pasok chip memori global, pasar Korea diperkirakan akan tetap menjadi barometer utama investasi AI dalam waktu dekat. Chisa Kobayashi, Strategis Ekuitas Jepang UBS SuMi TRUST Wealth Management, menyebut kondisi ini sebagai "normal baru" yang harus diterima investor selama reli AI masih berlanjut. Namun, ia mengingatkan bahwa dominasi pasar yang sangat dipengaruhi oleh perdagangan leverage membuat pergerakan harga kerap menyimpang dari fundamental perusahaan yang sebenarnya.










Tinggalkan komentar