Saham RI Rontok! IHSG Anjlok 4,35%, Ini Biang Keroknya

Saham RI Rontok! IHSG Anjlok 4,35%, Ini Biang Keroknya

Haluannews Ekonomi – Pasar modal Indonesia memulai pekan pertama Februari 2026 dengan sentimen negatif yang mendalam. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada perdagangan Senin (2/2/2026) mengalami koreksi signifikan, ambruk hingga 4,35% ke level 7.969,03 pada pukul 09:30 WIB. Penurunan tajam ini memicu kekhawatiran di kalangan investor dan menandai awal pekan yang penuh gejolak.

COLLABMEDIANET

Pembukaan perdagangan hari ini sebenarnya sudah menunjukkan pelemahan, dengan IHSG dibuka turun 0,28% ke level 8.306,16. Namun, hanya 12 menit berselang, tekanan jual semakin kuat, membuat indeks kehilangan 287 poin atau anjlok 3,44% ke 8.043,11, sebelum akhirnya mencapai level terendah 4,35% di pagi hari. Data perdagangan mencatat dominasi aksi jual, di mana 630 saham rontok, sementara hanya 78 saham yang mampu bertahan di zona hijau dan 252 saham stagnan. Total volume transaksi mencapai 16,46 miliar saham dengan frekuensi 1 juta kali, senilai Rp9,77 triliun.

Saham RI Rontok! IHSG Anjlok 4,35%, Ini Biang Keroknya
Gambar Istimewa : awsimages.detik.net.id

Pemicu utama pelemahan tajam IHSG pagi ini adalah anjloknya saham-saham di sektor pertambangan dan perdagangan emas. Hal ini menyusul penurunan signifikan harga acuan emas global pada akhir pekan lalu. Hampir seluruh emiten emas di Indonesia terkoreksi mendekati dua digit pada awal perdagangan, menambah tekanan pada indeks secara keseluruhan.

Para analis Haluannews.id memperkirakan pasar keuangan Indonesia akan tetap bergejolak sepanjang pekan pertama Februari 2026. Kombinasi faktor eksternal dan domestik menjadi penekan utama. Dari sisi eksternal, kembali terjadinya partial shutdown pemerintah Amerika Serikat menambah ketidakpastian global. Sementara itu, dinamika internal pasar keuangan Indonesia juga turut berkontribusi pada volatilitas. Kondisi ini membuat pergerakan IHSG dan nilai tukar rupiah rentan terhadap sentimen jangka pendek.

Beberapa data ekonomi penting yang akan dirilis hari ini juga menjadi perhatian pasar dan berpotensi mempengaruhi pergerakan selanjutnya. S&P Global dijadwalkan mengumumkan data PMI Manufaktur Januari. Sebagai catatan, aktivitas manufaktur Indonesia menunjukkan ekspansi berkelanjutan selama lima bulan berturut-turut hingga Desember 2025, meskipun melambat dengan PMI di angka 51,2. Angka di atas 50 menunjukkan fase ekspansi dunia usaha.

Selain itu, Badan Pusat Statistik (BPS) akan merilis data inflasi Januari 2026 dan neraca dagang Desember 2025 beserta akumulasi sepanjang tahun 2025. Inflasi Indonesia diperkirakan akan melandai pada Januari 2026, dengan konsensus pasar memproyeksikan inflasi bulanan sekitar 0,06% (mtm), jauh lebih terkendali dibandingkan Desember 2025 yang mencapai 0,64%. Untuk neraca dagang, poling Haluannews.id memprediksi surplus Desember 2025 akan mencapai US$ 5,05 miliar, meningkat dari US$ 2,66 miliar pada November 2025.

Investor disarankan untuk tetap waspada dan mencermati perkembangan data ekonomi serta sentimen global yang akan terus mempengaruhi pergerakan pasar di tengah volatilitas yang tinggi ini.

Editor: Rohman

Jika keberatan atau harus diedit baik Artikel maupun foto Silahkan Laporkan! Terima Kasih

Tags:

Ikutikami :

Tinggalkan komentar