haluannews.id – Mata uang Garuda kembali menunjukkan tren pelemahan pada pembukaan perdagangan Jumat pagi (23/10/2026). Nilai tukar rupiah terpantau merosot tipis terhadap dolar Amerika Serikat (AS), yang menandakan bahwa tekanan terhadap stabilitas moneter domestik masih belum menunjukkan tanda-tanda mereda secara signifikan.

Related Post
Berdasarkan data terbaru dari Refinitiv, rupiah dibuka pada level Rp18.050 per dolar AS. Jika dibandingkan dengan posisi penutupan perdagangan pada Kamis (22/10/2026) yang berada di angka Rp18.045 per dolar AS, maka terjadi pelemahan sebesar 0,03 persen atau setara dengan 5 poin. Di sisi lain, indeks dolar AS (DXY) yang menjadi tolok ukur kekuatan mata uang Amerika terhadap enam mata uang utama dunia lainnya terpantau bergerak stagnan di level 101,603 pada pukul 09.00 WIB.

Kondisi pasar keuangan saat ini tengah dibayangi oleh ketidakpastian geopolitik yang sangat tinggi, terutama di kawasan Timur Tengah. Ketegangan yang meningkat di wilayah tersebut memicu kekhawatiran global terkait stabilitas pasokan energi. Laporan dari media internasional menyebutkan adanya potensi eskalasi konflik antara Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran pasca pemilu paruh waktu AS pada November mendatang. Pernyataan dari Presiden AS Donald Trump yang menegaskan bahwa Washington tidak sedang melakukan negosiasi dengan Teheran semakin memperkeruh suasana dan membuat investor cenderung bersikap waspada.
Dampak dari ketidakpastian ini langsung terasa pada pasar komoditas. Harga minyak mentah jenis Brent melonjak hingga ke kisaran US$112,96 per barel pada awal perdagangan Asia. Lonjakan harga minyak ini menjadi ancaman serius bagi Indonesia. Sebagai negara yang masih bergantung pada impor energi, kenaikan harga minyak dunia berisiko meningkatkan kebutuhan akan dolar AS untuk membiayai impor, yang pada akhirnya dapat memicu inflasi di dalam negeri.
Meskipun demikian, ada sedikit angin segar dari pasar obligasi Amerika Serikat. Investor saat ini tengah berbondong-bondong beralih ke aset aman (safe haven) seperti obligasi pemerintah AS (US Treasury). Hal ini terlihat dari penurunan imbal hasil (yield) US Treasury tenor 10 tahun yang merosot ke level 4,972%, level terendah dalam sebulan terakhir. Penurunan imbal hasil ini secara teori dapat memberikan ruang bagi mata uang negara berkembang, termasuk rupiah, untuk menguat. Namun, selama tensi geopolitik belum mereda, ruang gerak rupiah diprediksi akan tetap terbatas.
Dari sisi domestik, Bank Indonesia (BI) memberikan optimisme terkait sektor perbankan. BI memproyeksikan adanya peningkatan penyaluran kredit baru pada kuartal IV-2026. Hal ini didorong oleh kebijakan standar pemberian kredit yang mulai melonggar. Berdasarkan Survei Perbankan Triwulan III-2026, Saldo Bersih Tertimbang (SBT) penyaluran kredit diprediksi naik menjadi 91,31% dari sebelumnya 90,08%. Langkah BI dalam memperbesar likuiditas perbankan diharapkan dapat terus mendorong pertumbuhan ekonomi di tengah dinamika global yang tidak menentu.










Tinggalkan komentar