haluannews.id – Nilai tukar rupiah kembali menghadapi tekanan berat pada pembukaan perdagangan awal pekan ini. Mata uang Garuda tercatat mengalami pelemahan signifikan terhadap dolar Amerika Serikat (AS), yang membuat posisi rupiah merosot ke level Rp17.920 per dolar AS pada Senin pagi (28/9/2026).

Related Post
Berdasarkan data yang dihimpun dari Refinitiv, depresiasi rupiah mencapai 0,22% pada sesi pembukaan ini. Kondisi ini menjadi kabar kurang sedap bagi pasar keuangan domestik, mengingat pada penutupan perdagangan Jumat pekan lalu, rupiah sebenarnya sempat menunjukkan tanda-tanda pemulihan tipis dengan menguat 0,03% ke level Rp17.880 per dolar AS.

Melemahnya rupiah saat ini dipicu oleh dinamika pasar global yang masih sangat fluktuatif. Meskipun indeks dolar AS (DXY) sempat mengalami koreksi tipis sebesar 0,31% ke level 100,971 pada penutupan Jumat lalu, namun sentimen terhadap mata uang greenback secara keseluruhan masih cenderung kuat.
Fokus Pasar pada Data Inflasi Domestik
Dalam satu pekan ke depan, pergerakan rupiah diprediksi akan sangat bergantung pada rilis data ekonomi penting dari dalam negeri. Para pelaku pasar kini tengah bersiap menantikan pengumuman data inflasi Indonesia periode September yang dijadwalkan rilis pada Kamis (1/10/2026).
Data tersebut akan mencakup angka inflasi tahunan, inflasi inti, hingga inflasi bulanan. Hasil dari laporan ini akan menjadi kompas utama bagi Bank Indonesia (BI) dalam merumuskan kebijakan moneter selanjutnya. Sebagai catatan, pada bulan Agustus lalu, inflasi tahunan sempat melonjak ke angka 3,19%, melampaui ekspektasi pasar.
Jika data inflasi September mendatang tetap berada dalam rentang sasaran 1,5% hingga 3,5%, Bank Indonesia akan memiliki ruang yang lebih luas untuk menerapkan kebijakan moneter yang akomodatif. Namun, jika inflasi inti justru merangkak naik, hal tersebut dapat mempersempit peluang BI untuk menurunkan suku bunga.
Sentimen Global dan Ketidakpastian Suku Bunga AS
Dari sisi eksternal, arah pergerakan dolar AS masih menjadi faktor penentu utama. Meski sempat terjadi aksi ambil untung (profit taking) oleh para investor setelah harga minyak dunia turun akibat harapan gencatan senjata antara AS dan Iran, kekuatan dolar tetap terjaga.
Ketahanan ekonomi Amerika Serikat menjadi alasan kuat mengapa dolar sulit untuk melemah secara permanen. Data pesanan barang modal di AS yang melampaui perkiraan menunjukkan bahwa belanja sektor usaha masih sangat solid. Kondisi ini memberikan alasan tambahan bagi bank sentral AS, The Federal Reserve (The Fed), untuk tetap mempertahankan kebijakan moneter yang ketat.
Berdasarkan data CME FedWatch, pasar kini memproyeksikan peluang sebesar 66% bahwa The Fed akan kembali menaikkan suku bunga pada pertemuan bulan Oktober mendatang. Meningkatnya ekspektasi pengetatan ini dipicu oleh kekhawatiran para pejabat The Fed terhadap inflasi yang sulit turun ke target 2%.
"Dolar tidak benar-benar melemah secara substansial. Pergerakan penurunan yang terjadi hanyalah jeda sementara sebelum melanjutkan trennya," ungkap Eugene Epstein, Kepala Perdagangan dan Produk Terstruktur dari Moneycorp.
Dengan kombinasi ketidakpastian inflasi domestik dan kebijakan suku bunga AS yang masih agresif, pelaku pasar disarankan untuk tetap waspada terhadap volatilitas nilai tukar rupiah dalam beberapa hari ke depan. Informasi ini dirangkum dari laporan haluannews.id.










Tinggalkan komentar