Haluannews Ekonomi – Pelemahan nilai tukar Rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) semakin menjadi sorotan global, dengan media-media di Singapura turut menyoroti kondisi mata uang Garuda yang kini berada di ambang batas psikologis krusial. Dua publikasi terkemuka, Channel News Asia (CNA) dan The Straits Times, secara khusus mengulas tekanan yang dialami Rupiah, menggarisbawahi kekhawatiran terhadap stabilitas ekonomi Indonesia.

Related Post
CNA, dalam laporannya yang mengutip AFP, mencatat bahwa Rupiah telah jatuh ke level terendah baru, mencapai 18.028 per dolar AS. Laman tersebut menyebutkan bahwa Rupiah "menembus ambang batas psikologis 18.000" pada Kamis (4 Juni) di tengah kekhawatiran akan prospek perekonomian nasional, terutama akibat melonjaknya biaya energi. Menurut data Bloomberg News yang dikutip CNA, Rupiah telah melemah lebih dari 7% sepanjang tahun ini, menjadikannya mata uang dengan kinerja terburuk di Asia. Pelemahan ini dipicu oleh konflik AS-Israel terhadap Iran yang menyebabkan lonjakan harga minyak global, serta tingginya permintaan dolar dan menyempitnya surplus perdagangan. Indonesia, sebagai importir minyak bersih, sangat rentan terhadap kenaikan harga minyak mentah, yang memaksa pemerintah mempertahankan subsidi bahan bakar. Ekonom Josua Pardede, seperti dikutip AFP, menyoroti penurunan drastis surplus perdagangan Indonesia dari US$3,3 miliar menjadi hanya US$89 juta pada April, yang semakin mengurangi pasokan dolar di pasar.

Sementara itu, The Straits Times menyoroti pelemahan Rupiah di bawah level kunci Rp 18.000, yang membuat pasar waspada terhadap potensi intervensi Bank Indonesia. Laman ini melaporkan bahwa Rupiah merosot 0,35% menjadi 18.029,5 per dolar AS pada pukul 11.06 pagi waktu Singapura pada tanggal 4 Juni, mengukuhkan penurunan lebih dari 7% sepanjang tahun. Terhadap dolar Singapura, Rupiah juga mencapai rekor terendah baru, diperdagangkan pada 14.047,71, turun 0,32% semalam dan mencatat penurunan 9,3% sejak awal tahun. The Straits Times juga menekankan bahwa Rupiah adalah mata uang dengan kinerja terburuk di Asia tahun ini, sebagian besar karena kekhawatiran bahwa harga minyak yang tinggi akan memperlebar defisit anggaran Indonesia melalui biaya subsidi energi yang lebih tinggi. Penembusan di bawah 18.000 ini dikhawatirkan dapat mempercepat arus keluar dana asing dari saham dan obligasi lokal, menjadikannya ujian penting bagi pembuat kebijakan. Sentimen investor terhadap aset Indonesia juga memburuk setelah peringatan MSCI mengenai potensi reklasifikasi sebagai pasar negara berkembang, serta revisi prospek oleh Fitch Ratings dan Moody’s Ratings. Kekhawatiran juga meningkat terkait upaya pemerintah untuk mengontrol lebih besar ekspor komoditas utama.
Situasi ini menuntut respons cepat dan strategis dari otoritas moneter dan fiskal Indonesia. Pelemahan Rupiah yang berkelanjutan, seperti yang disorot media-media Singapura, bukan hanya sekadar angka, melainkan indikator tekanan fundamental yang memerlukan kebijakan yang cermat untuk menjaga kepercayaan investor dan stabilitas ekonomi nasional. Haluannews.id akan terus memantau perkembangan ini.
Editor: Rohman











Tinggalkan komentar