Haluannews Ekonomi – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kembali menghadapi tekanan berat pada perdagangan pagi Kamis (4/6/2026), mencatat pelemahan signifikan sebesar 3,02% dan parkir di level 5.760,33. Sejak pembukaan, IHSG sudah menunjukkan tren negatif di 5.919,57, namun sentimen jual yang kuat terus mendominasi, menyeret indeks lebih dalam hingga menyentuh 5.874,70. Dalam sesi pagi tersebut, IHSG bergerak di rentang 5.873,00 hingga 5.924,51. Penurunan ini turut memangkas kapitalisasi pasar Bursa Efek Indonesia menjadi Rp10.311 triliun.

Related Post
Koreksi tajam hari ini melanjutkan tren negatif dari perdagangan sebelumnya, di mana IHSG ambles 4,11% ke level 5.941,07. Kala itu, aksi jual bersih investor asing nyaris mencapai Rp1 triliun, dengan sekitar 75% saham ditutup di zona merah, mengindikasikan kekhawatiran pasar yang mendalam.

Berbagai sentimen, baik dari kancah global maupun domestik, disinyalir menjadi pemicu utama tekanan jual yang masif ini. Ambruknya pasar saham Wall Street, kembali naiknya harga minyak mentah, penguatan nilai tukar dolar Amerika Serikat, serta data ekonomi AS yang masih menunjukkan ketangguhan, secara kolektif menciptakan atmosfer ketidakpastian yang menekan pasar keuangan di Indonesia. Di Asia, pasar juga kompak bergerak negatif; indeks Kospi Korea Selatan terkoreksi 2% setelah libur, sementara Nikkei 225 Jepang turun 1,4% pasca mencetak rekor. Indeks Topix Jepang juga melemah 0,91% akibat aksi ambil untung. Pasar Australia melalui indeks S&P/ASX 200 turun 0,84%, dan kontrak berjangka indeks Hang Seng Hong Kong menunjukkan pelemahan dari penutupan sebelumnya.
Di tengah gejolak pasar, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menerima kunjungan perwakilan lembaga pemeringkat global Standard & Poor’s (S&P) di Kantor Kemenko Perekonomian, Jakarta, pada Rabu (3/6/2026). Pertemuan ini dihadiri oleh Kim Eng Tan, Managing Director Sovereign Ratings S&P Asia Pasifik, dengan agenda utama mendiskusikan prospek serta ketahanan ekonomi Indonesia di tengah berbagai risiko global yang masih membayangi.
Airlangga memanfaatkan kesempatan ini untuk memaparkan kondisi perekonomian nasional yang dinilai tetap solid, meskipun dihadapkan pada tantangan eksternal seperti ketegangan geopolitik, perlambatan ekonomi global, dan gangguan rantai pasok. "Pertemuan ini menjadi momentum penting untuk menegaskan ketahanan ekonomi Indonesia di tengah situasi global yang masih penuh ketidakpastian," ungkap Airlangga melalui akun Instagram resminya, sebagaimana dikutip oleh Haluannews.id.
Menurut Airlangga, stabilitas ekonomi Indonesia didukung oleh kombinasi kebijakan fiskal dan moneter yang terukur, kuatnya konsumsi domestik, serta membaiknya kinerja sektor eksternal. Ia menegaskan bahwa sejumlah indikator makroekonomi utama masih menunjukkan tren positif. "Inflasi tetap terkendali, investasi terus tumbuh positif, dan program hilirisasi mulai memberikan dampak nyata terhadap peningkatan nilai tambah industri nasional," jelasnya.
Pemerintah juga memaparkan berbagai agenda strategis yang sedang berjalan untuk menjaga momentum pertumbuhan, termasuk percepatan hilirisasi industri, penguatan ketahanan energi dan pangan, serta peningkatan daya saing manufaktur. "Langkah-langkah tersebut merupakan bagian dari transformasi ekonomi Indonesia agar semakin tangguh menghadapi tekanan global sekaligus mampu tumbuh lebih kompetitif dalam jangka panjang," pungkas Airlangga. Ia menambahkan, pemerintah tetap optimistis prospek ekonomi Indonesia akan terjaga seiring berlanjutnya reformasi struktural dan pembangunan yang inklusif serta berkelanjutan.
Editor: Rohman









Tinggalkan komentar