Haluannews Ekonomi – Mata uang Garuda kembali mencatatkan rekor terendah baru, memicu kekhawatiran di pasar keuangan domestik. Berdasarkan data dari Refinitiv, nilai tukar rupiah ditutup terkoreksi tajam ke level Rp17.940 per dolar Amerika Serikat. Posisi ini tak hanya melampaui batas psikologis Rp17.900/US$, namun juga kian merapat ke level krusial Rp18.000/US$, sebuah ambang batas yang sebelumnya dihindari.

Related Post
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa akhirnya buka suara menanggapi gejolak ini. Ia menyoroti bahwa depresiasi rupiah saat ini dipicu oleh maraknya spekulasi dan rumor tak berdasar di ranah pasar keuangan. Purbaya secara tegas membantah adanya instruksi dari dirinya kepada perbankan untuk melakukan uji ketahanan (stress test) jika nilai tukar dolar melampaui Rp18.000.

"Ada yang bilang saya suruh perbankan melakukan stress-stress kalau (dolar) Rp18.000 lebih. Padahal saya tidak pernah mengeluarkan isu seperti itu," ujarnya saat ditemui di kompleks parlemen, Jakarta, pada hari Rabu (3/6/2026). Ia menambahkan, "Banyak isu-isu di pasar yang membuat sentimen terhadap Rupiah menjadi agak-agak," seraya menekankan dampak rumor terhadap pergerakan mata uang domestik, sebagaimana dilansir Haluannews.id.
Meski demikian, Purbaya menegaskan bahwa fokus utamanya tetap pada penguatan fondasi ekonomi nasional. "Kewajiban saya adalah menjaga fondasi ekonomi saja. Supaya ekonominya berjalan terus semakin cepat," tegasnya, menggarisbawahi prioritas pemerintah dalam menjaga momentum pertumbuhan ekonomi di tengah volatilitas global. Pernyataan ini sekaligus menjadi penegasan komitmen pemerintah untuk memastikan stabilitas makroekonomi di tengah tekanan eksternal dan sentimen pasar yang fluktuatif.
Editor: Rohman









Tinggalkan komentar