Haluannews Ekonomi – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kembali terperosok dalam, melanjutkan tekanan jual yang tak kunjung mereda di pasar modal domestik. Pada penutupan sesi pertama perdagangan, indeks acuan ini terperosok 206,81 poin atau setara dengan 3,48%, mengakhiri sesi di level 5.734,26. Penurunan ini memperpanjang tren negatif setelah sehari sebelumnya IHSG juga anjlok signifikan sebesar 4,11%.

Related Post
Sejak pembukaan perdagangan pagi, IHSG langsung menunjukkan sinyal pelemahan, membuka di zona merah dan tak butuh waktu lama untuk ambruk, meninggalkan level psikologis 5.800 dengan koreksi lebih dari 2% dari penutupan sebelumnya.

Dominasi sentimen negatif tercermin dari 716 emiten yang terpuruk di zona merah, berbanding jauh dengan hanya 68 saham yang mampu menguat, sementara 175 lainnya stagnan. Aktivitas transaksi siang ini terbilang ramai, dengan nilai mencapai Rp 12,72 triliun dan volume sebesar 20,87 miliar saham yang diperdagangkan dalam 1,36 juta kali transaksi. Secara agregat, kapitalisasi pasar Bursa Efek Indonesia (BEI) dilaporkan menguap hingga Rp 364 triliun hanya dalam satu sesi perdagangan.
Sektor properti dan bahan baku menjadi korban utama koreksi paling dalam, masing-masing ambles 6,44% dan 5,7%. Sementara itu, sektor teknologi menjadi yang paling "tahan banting" dengan penurunan paling moderat, yakni 1,96%.
Deretan saham bank berkapitalisasi jumbo menjadi pemberat utama IHSG. Bank Central Asia (BBCA) dan Bank Rakyat Indonesia (BBRI) memimpin daftar top laggards dengan kontribusi masing-masing -18,74 poin dan -17,25 poin. Di posisi kelima, Bank Mandiri (BMRI) turut menyumbang tekanan sebesar -7,82 poin. Di antara raksasa perbankan, emiten milik Prajogo Pangestu, Barito Pacific (BRPT), juga memberikan dampak negatif signifikan dengan -10,13 poin, diikuti oleh Astra International (ASII) dengan -7,98 poin.
Penurunan indeks yang berkelanjutan ini mengonfirmasi bahwa IHSG kini kembali menyentuh level terendah sejak 1 Desember 2020, merefleksikan valuasi agregat pasar yang setara dengan kondisi ketidakpastian ekstrem pada era awal pandemi Covid-19.
Koreksi lanjutan pada indeks acuan ini masih dipicu oleh akumulasi sentimen makroekonomi dan institusional yang belum menunjukkan tanda-tanda mereda. Efek dari penurunan prospek (outlook) oleh Danantara Investment Management pada hari sebelumnya terus memberikan tekanan pada preferensi risiko investor institusional, mendorong mereka untuk mengurangi eksposur di aset berisiko.
Tekanan di pasar ekuitas ini berjalan beriringan dengan depresiasi nilai tukar Rupiah yang kini telah menembus level psikologis baru, yakni di angka Rp18.000 per Dolar Amerika Serikat. Pelemahan mata uang yang signifikan ini menimbulkan kekhawatiran rasional dari para pelaku pasar terhadap potensi lonjakan beban operasional emiten yang memiliki kewajiban valuta asing dalam porsi besar, menggerus profitabilitas mereka.
Tingkat kerentanan bursa saham saat ini berada pada fase yang krusial, mengingat publikasi pemeringkatan dari S&P Global Ratings – yang rumornya telah memicu aksi jual – belum dirilis secara resmi. Di samping itu, volatilitas pasar juga didorong oleh sikap antisipatif investor menjelang dua agenda penting dari MSCI, lembaga penyedia indeks global.
MSCI dijadwalkan akan mempublikasikan Market Accessibility Review pada tanggal 19 Juni, yang kemudian akan disusul oleh pengumuman Classification Review pada tanggal 24 Juni. Risiko yang mengiringi potensi penyesuaian evaluasi dan klasifikasi dari MSCI tersebut secara logis mendorong investor, khususnya pemodal asing, untuk mempercepat langkah mitigasi dengan mengurangi eksposur aset berisiko di pasar modal Indonesia sebelum pengumuman krusial tersebut dilakukan.
Editor: Rohman











Tinggalkan komentar