Rupiah Terkapar Dolar AS Kembali Menggila

Rupiah Terkapar Dolar AS Kembali Menggila

haluannews.id – Mata uang Garuda kembali menghadapi tekanan serius di awal perdagangan Selasa 4 Agustus 2026. Nilai tukar rupiah secara mengejutkan dibuka melemah terhadap dolar Amerika Serikat AS bahkan sempat menyentuh ambang batas krusial Rp18.000 per dolar AS. Sebuah sinyal yang patut diwaspadai setelah sempat menunjukkan penguatan dalam beberapa hari terakhir.

COLLABMEDIANET

Berdasarkan data terkini, rupiah tercatat terdepresiasi 0,11 persen, kembali ke level Rp18.000 per dolar AS. Padahal, sehari sebelumnya pada Senin 3 Agustus 2026, rupiah sempat menunjukkan taringnya dengan ditutup menguat 0,06 persen di posisi Rp17.980 per dolar AS. Penguatan tersebut merupakan yang kedua berturut-turut setelah kinerja positif di akhir pekan sebelumnya.

Rupiah Terkapar Dolar AS Kembali Menggila
Gambar Istimewa : awsimages.detik.net.id

Di sisi lain, indeks dolar AS DXY yang menjadi tolok ukur kekuatan greenback terhadap mata uang utama dunia, terpantau melonjak 0,11 persen pada pukul 09.00 WIB, mencapai angka 100.001. Kenaikan ini membawa DXY kembali melampaui level psikologis 100, setelah sebelumnya sempat terpuruk ke posisi terendah dalam satu setengah bulan terakhir. Dinamika pergerakan dolar AS di pasar global ini menjadi faktor utama yang menekan pergerakan rupiah hari ini.

Sebelumnya, dolar AS sempat kehilangan momentum setelah bank sentral AS The Federal Reserve The Fed memutuskan untuk menahan suku bunga. Ditambah lagi, intervensi bersama Jepang dan AS untuk memperkuat yen serta penurunan harga minyak global turut membebani greenback. Namun, sentimen pasar berbalik. Para investor menilai aksi jual pasca pengumuman The Fed terlalu berlebihan. Meskipun suku bunga ditahan, ekspektasi pasar tetap tinggi bahwa The Fed akan kembali mengetatkan kebijakan moneternya dalam waktu dekat.

Saat ini, pasar memperkirakan adanya kenaikan suku bunga The Fed sekitar 35 basis poin hingga Desember 2026. Fokus investor global kini tertuju pada laporan ketenagakerjaan AS periode Juli yang akan dirilis pada Jumat mendatang. Data ini akan menjadi petunjuk penting mengenai langkah The Fed selanjutnya. Pasar tenaga kerja yang solid berpotensi memperkuat ekspektasi kebijakan moneter ketat, sekaligus menjadi penopang utama bagi dolar AS.

Menyikapi gejolak ini, Bank Indonesia BI terus menegaskan komitmennya untuk menjaga stabilitas rupiah. Pejabat Sementara Gubernur BI Destry Damayanti mengungkapkan bahwa rupiah sempat kembali menguat di akhir Juli, mencapai Rp17.994 per dolar AS pada 31 Juli 2026, setelah sempat mengalami tekanan sejak pertengahan Juni.

Menurut Destry, penguatan rupiah didorong oleh masuknya aliran modal asing ke pasar keuangan domestik, terutama melalui instrumen Surat Berharga Negara SBN dan Sekuritas Rupiah Bank Indonesia SRBI. Peningkatan imbal hasil yang menarik bagi investor asing menjadi magnet utama. Selain itu, BI juga mempertahankan suku bunga acuan atau BI Rate di level 5,75 persen. Kebijakan ini bertujuan untuk menjaga daya tarik aset keuangan dalam negeri dan memperkuat fondasi stabilitas rupiah.

Tak hanya itu, BI secara aktif melakukan intervensi di pasar valuta asing, baik di dalam maupun luar negeri, guna meredam gejolak dan menjaga pergerakan rupiah agar tetap terkendali dari fluktuasi yang berlebihan.

Jika keberatan atau harus diedit baik Artikel maupun foto Silahkan Laporkan! Terima Kasih

Tags:

Ikutikami :

Tinggalkan komentar