haluannews.id – Mata uang Garuda kembali tak berdaya di hadapan dolar Amerika Serikat pada perdagangan Kamis 23 Juli 2026. Pelemahan ini terjadi sehari setelah Bank Indonesia mengambil keputusan untuk menahan suku bunga acuannya di angka 5,75%.

Related Post
Menurut data Refinitiv, rupiah langsung terdepresiasi 0,20% saat pembukaan, menembus level Rp17.910 per dolar AS. Kondisi ini memupus harapan setelah sebelumnya rupiah sempat menguat tipis 0,06% dan ditutup di Rp17.870 per dolar AS.

Di sisi lain, Indeks Dolar AS DXY yang menjadi tolok ukur kekuatan greenback terhadap enam mata uang utama dunia, justru terpantau melemah 0,07% ke angka 101,058 pada pukul 09.00 WIB. Ini melanjutkan tren penurunan dari penutupan sebelumnya di 101,125.
Fluktuasi rupiah pagi ini tak lepas dari reaksi pasar terhadap hasil Rapat Dewan Gubernur BI periode Juli, ditambah dengan eskalasi konflik antara Amerika Serikat dan Iran yang semakin memanas.
Dari ranah domestik, Bank Sentral Indonesia melalui RDG yang digelar 21-22 Juli 2026, memutuskan untuk mempertahankan BI Rate di level 5,75%. Kebijakan ini juga diikuti dengan penahanan suku bunga Deposit Facility di 4,75% dan Lending Facility di 6,50%.
Langkah ini diambil setelah serangkaian kenaikan suku bunga kumulatif sebesar 100 basis poin sejak Mei 2026, sebagai upaya menjaga stabilitas rupiah di tengah gejolak ekonomi global yang tak menentu.
Gubernur BI Perry Warjiyo sebelumnya sempat menyatakan bahwa pergerakan rupiah masih relatif stabil hingga pertengahan Juli 2026. "Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS relatif stabil dibandingkan dengan level akhir Juni 2026 sebesar Rp17.880," jelas Perry.
Untuk menjaga stabilitas tanpa harus kembali mengerek suku bunga domestik, BI memilih strategi mempertahankan suku bunga sembari memperkuat berbagai insentif guna menarik masuknya arus modal asing.
Di kancah global, meskipun Indeks Dolar AS DXY sedikit melemah pagi ini, mata uang Paman Sam tetap mendapat dukungan kuat. Pemicunya tak lain adalah kembali memanasnya konflik antara AS dan Iran, yang memicu lonjakan permintaan terhadap aset-aset aman seperti dolar AS.
Militer AS dilaporkan kembali melancarkan serangan terhadap Iran. Bersamaan dengan itu, kelompok Houthi yang didukung Teheran pada Kamis mengklaim telah menyerang dua kapal tanker minyak milik Arab Saudi. Insiden ini disebut sebagai bagian dari upaya blokade laut terhadap Saudi di wilayah Laut Merah.
Kelompok Houthi yang bermarkas di Yaman menguasai area strategis di sekitar Selat Bab el-Mandeb. Selat ini terletak di sisi berlawanan Semenanjung Arab dari Selat Hormuz, yang kini nyaris sepenuhnya berada dalam kendali blokade Iran.
Situasi ini menciptakan ancaman serius terhadap dua jalur utama perdagangan minyak global secara bersamaan, yaitu Selat Hormuz dan Selat Bab el-Mandeb.
Di sisi lain, militer AS pada Rabu kembali melancarkan gempuran terhadap Iran, atas perintah langsung Presiden Donald Trump. Ini merupakan serangan ke-12 yang dilancarkan AS terhadap Iran secara berturut-turut dalam 12 malam terakhir.
Ancaman terhadap jalur pelayaran ini telah memaksa sejumlah kapal mengubah rute. Tercatat, lima kapal tanker memilih menghindari Selat Bab el-Mandeb pada Rabu. Sehari sebelumnya, tiga tanker pengangkut minyak Arab Saudi yang menuju Tiongkok dan India juga terpaksa berbalik arah di Laut Merah.
Gangguan pada distribusi minyak ini kembali memicu kekhawatiran akan pasokan energi global dan potensi lonjakan inflasi. Kondisi ini secara tidak langsung terus menopang dolar AS sebagai aset safe-haven, sekaligus membatasi ruang gerak rupiah untuk menguat.










Tinggalkan komentar