Haluannews Ekonomi – Pasar keuangan Indonesia dihebohkan dengan pergerakan nilai tukar rupiah yang sempat menyentuh level psikologis Rp17.300 per dolar Amerika Serikat. Pemerintah, melalui pernyataan resminya, menyoroti bahwa pelemahan ini tak lepas dari gelombang tekanan global yang turut mengguncang stabilitas mata uang di berbagai kawasan, memicu volatilitas yang signifikan.

Related Post
Berdasarkan pantauan tim Haluannews.id di salah satu sentra penukaran valuta asing, Valuta Artha Mas, ITC Kuningan, pada pukul 13.40 WIB, harga jual dolar AS tercatat di angka Rp17.280, sementara harga beli berada di Rp17.350. Tak hanya dolar AS, pergerakan mata uang regional seperti dolar Singapura juga terpantau, dengan harga jual Rp13.520 dan harga beli Rp13.575, mengindikasikan tekanan yang lebih luas di pasar valas.

Menanggapi gejolak ini, pemerintah menegaskan komitmennya untuk terus berkoordinasi erat dengan Bank Indonesia (BI). Keduanya akan secara intensif memantau dinamika pasar keuangan global maupun domestik, dengan tujuan utama menjaga stabilitas nilai tukar rupiah di tengah tingginya volatilitas yang masih membayangi. Langkah-langkah intervensi dan kebijakan moneter yang adaptif disiapkan untuk meredam dampak lebih lanjut.
Meskipun sempat tertekan hebat, rupiah menunjukkan daya tahannya. Merujuk data dari Refinitiv, pada penutupan perdagangan Jumat (24/4/2026), mata uang Garuda berhasil mengakhiri sesi di zona hijau dengan apresiasi signifikan sebesar 0,52%, kembali ke level Rp17.190 per dolar AS. Pembalikan arah ini mengindikasikan adanya intervensi atau sentimen positif yang berhasil meredakan tekanan jual di akhir hari, meski kewaspadaan tetap menjadi prioritas utama bagi otoritas moneter dan fiskal. Fluktuasi ini menjadi pengingat akan kerentanan ekonomi domestik terhadap faktor eksternal, sekaligus menyoroti pentingnya kebijakan moneter dan fiskal yang adaptif untuk membentengi stabilitas di masa mendatang.
Editor: Rohman




Tinggalkan komentar