haluannews.id – Jakarta – Rupiah menutup pekan ini dengan performa gemilang, Jumat 14 Agustus 2026. Mata uang Garuda berhasil membalikkan tekanan awal perdagangan, mengakhiri hari dengan perkasa di hadapan dolar Amerika Serikat.

Related Post
Merujuk data pasar, nilai tukar rupiah terapresiasi 0,22 persen, mencapai level Rp17.820 per dolar AS. Kenaikan ini menandai penguatan beruntun kedua bagi rupiah, setelah sehari sebelumnya juga mencatatkan kenaikan tipis. Rupiah yang sempat dibuka melemah 0,08 persen di level Rp17.875 per dolar AS, berhasil bangkit dan menguat 55 poin hingga penutupan.

Secara mingguan, rupiah juga mengukir prestasi dengan penguatan sebesar 0,36 persen, jauh lebih baik dari posisi Rp17.885 per dolar AS pada penutupan pekan sebelumnya.
Di sisi lain, indeks dolar AS DXY, yang mengukur kekuatan greenback terhadap enam mata uang utama dunia, terpantau melemah 0,16 persen ke posisi 99,804. Pelemahan dolar ini menjadi angin segar yang signifikan bagi pergerakan rupiah.
Tekanan terhadap dolar AS muncul setelah serangkaian data inflasi produsen AS atau Producer Price Index PPI kembali mengurangi peluang kenaikan suku bunga bank sentral AS The Federal Reserve atau The Fed pada September mendatang. Data PPI AS tidak mengalami perubahan secara bulanan pada Juli, lebih rendah dari perkiraan ekonom yang memproyeksikan kenaikan 0,2 persen, setelah sebelumnya terkontraksi 0,1 persen pada Juni.
Laporan PPI ini melengkapi data inflasi konsumen yang dirilis sehari sebelumnya, di mana harga konsumen AS hanya meningkat tipis pada Juli, sementara inflasi tahunan dan inflasi inti sama-sama melandai. Rangkaian data tersebut membuat pasar kembali memangkas perkiraan kenaikan suku bunga The Fed. Peluang kenaikan suku bunga pada September kini berada di level 35 persen, turun drastis dari 40 persen pada Rabu dan 55 persen sepekan sebelumnya.
Berkurangnya peluang kenaikan suku bunga ini secara langsung menekan daya tarik dolar AS, sekaligus memberikan ruang bagi mata uang negara berkembang, termasuk rupiah, untuk menunjukkan kekuatannya.
Selain faktor global, penguatan rupiah jelang akhir pekan ini juga berlangsung seiring dengan rangkaian Sidang Tahunan MPR, Sidang Bersama DPR dan DPD, serta Rapat Paripurna DPR di Kompleks Parlemen Senayan, Jakarta. Presiden Prabowo Subianto telah menyampaikan Pidato Kenegaraan pada pagi hari, dilanjutkan dengan penyampaian keterangan pemerintah atas Rancangan Undang-Undang APBN Tahun Anggaran 2027 beserta Nota Keuangannya.
Pasar menantikan detail asumsi nilai tukar rupiah, pertumbuhan ekonomi, inflasi, suku bunga, defisit anggaran, serta strategi pembiayaan pemerintah untuk tahun 2027. Arah kebijakan fiskal ini menjadi krusial karena dapat memengaruhi kepercayaan investor, aliran modal asing, dan tentu saja, pergerakan rupiah di masa mendatang.










Tinggalkan komentar