Rupiah Melemah Dolar AS Kembali Perkasa

Rupiah Melemah Dolar AS Kembali Perkasa

haluannews.id – Mata uang kebanggaan Indonesia, rupiah, memulai perdagangan hari Rabu (17/6/2026) dengan kinerja yang kurang menggembirakan. Setelah sempat libur nasional memperingati Tahun Baru Hijriah, rupiah langsung tertekan di hadapan dolar Amerika Serikat (AS). Berdasarkan data Refinitiv, "mata uang Garuda" ini terpantau melemah 0,25%, menempatkannya pada posisi Rp17.735 per dolar AS.

COLLABMEDIANET

Kondisi ini tentu mengecewakan, mengingat rupiah sempat menunjukkan taringnya pada perdagangan Senin (15/6/2026). Kala itu, rupiah berhasil menguat signifikan 0,98%, menembus level Rp17.690 per dolar AS, sebuah pencapaian yang kini gagal dipertahankan.

Rupiah Melemah Dolar AS Kembali Perkasa
Gambar Istimewa : awsimages.detik.net.id

Di sisi lain, indeks dolar AS (DXY), barometer kekuatan greenback terhadap enam mata uang utama dunia, pukul 09.00 WIB pagi ini terlihat stabil di angka 99,513. Namun, kestabilan ini tak mampu menutupi fakta bahwa DXY telah mengalami tren pelemahan selama empat hari berturut-turut sejak Kamis pekan lalu.

Pergerakan nilai tukar rupiah hari ini masih sangat dipengaruhi oleh dinamika dolar AS di kancah global. Greenback terpantau cenderung melemah pada hari Rabu, terutama menjelang pengumuman krusial kebijakan moneter Federal Reserve yang kini dipimpin oleh Kevin Warsh. Selain itu, optimisme pasar terhadap potensi kesepakatan damai sementara antara AS dan Iran turut mendongkrak minat pada aset-aset berisiko, secara tidak langsung menekan permintaan terhadap dolar AS.

Aktivitas perdagangan mata uang di sesi awal Asia terlihat cukup terbatas. Para investor dan pelaku pasar memilih untuk bersikap wait and see, menahan diri dari mengambil posisi besar menjelang keputusan suku bunga The Fed yang dijadwalkan hari ini. Meskipun The Fed di bawah kepemimpinan Warsh diperkirakan akan mempertahankan suku bunga, perhatian utama tertuju pada setiap pernyataan kebijakan, proyeksi ekonomi, dan konferensi pers. Pasar ingin menangkap sinyal apakah bank sentral AS ini akan mulai meninggalkan kebijakan pelonggaran, terutama di tengah kekhawatiran yang meningkat terhadap potensi inflasi.

Tak hanya sentimen global, dari dalam negeri, sorotan pasar juga tertuju pada Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia (BI) yang tengah berlangsung selama dua hari, yakni 17-18 Juni 2026.

RDG kali ini menjadi sangat krusial, menyusul langkah mengejutkan BI pekan lalu yang menaikkan suku bunga acuan atau BI Rate sebesar 25 basis poin menjadi 5,50% melalui RDG Mingguan. Kebijakan serupa juga telah diambil pada RDG Bulanan sebelumnya dengan kenaikan 50 basis poin. Serangkaian langkah agresif ini menunjukkan komitmen BI dalam menjaga stabilitas nilai tukar rupiah, terutama setelah mata uang domestik ini sempat menghadapi tekanan signifikan dari dolar AS. Pasar kini menanti apakah BI akan kembali membuat keputusan berani untuk meredam gejolak.

Jika keberatan atau harus diedit baik Artikel maupun foto Silahkan Laporkan! Terima Kasih

Tags:

Ikutikami :

Tinggalkan komentar