Rupiah Loyo Dolar AS Meroket Ini Penyebabnya

Rupiah Loyo Dolar AS Meroket Ini Penyebabnya

haluannews.id – Jakarta – Mata uang Garuda tak berdaya di hadapan dolar Amerika Serikat pada penutupan perdagangan akhir pekan ini. Rupiah terdepresiasi, mengakhiri sesi perdagangan dengan tren pelemahan yang cukup signifikan. Data pasar menunjukkan, rupiah sempat dibuka melemah 0,23% di level Rp17.570 per dolar AS, bahkan sempat merosot tajam hingga titik terendah hari ini di Rp17.620 per dolar AS.

COLLABMEDIANET

Meski demikian, tekanan terhadap rupiah sedikit mereda menjelang penutupan. Mata uang domestik ini berhasil menguat 35 poin dari posisi terlemahnya, namun tetap ditutup di level Rp17.585 per dolar AS, atau terdepresiasi 0,31% terhadap greenback. Menariknya, dalam rentang sepekan, rupiah masih mampu mencatatkan apresiasi tipis sekitar 0,26% dari posisi penutupan Jumat pekan lalu di Rp17.630 per dolar AS.

Rupiah Loyo Dolar AS Meroket Ini Penyebabnya
Gambar Istimewa : awsimages.detik.net.id

Kelesuan rupiah hari ini tak lepas dari dominasi dolar AS di kancah global. Indeks dolar AS (DXY), yang menjadi barometer kekuatan greenback terhadap enam mata uang utama dunia, terpantau menguat 0,05% ke posisi 99,096 pada pukul 15.00 WIB. Penguatan dolar AS ini didorong oleh kekhawatiran akan gejolak pasokan energi di kawasan Timur Tengah yang kian memanas, mendorong investor mencari aset aman.

Dolar AS juga makin bertenaga setelah rilis data indeks harga produsen (PPI) AS yang menunjukkan kenaikan 0,4% pada Agustus. Lonjakan harga energi menjadi salah satu pendorong utama kenaikan tekanan harga di tingkat produsen tersebut. Situasi ini semakin memperkuat posisi dolar sebagai mata uang pilihan di tengah ketidakpastian global.

Meroketnya harga energi global, dengan harga minyak Brent yang menembus US$100 dan kini bertengger di US$108,96 per barel setelah naik 1,2% pada perdagangan Asia, sontak memicu spekulasi pasar. Pelaku pasar kini memperbesar kemungkinan Federal Reserve (The Fed) menaikkan suku bunga acuan. Berdasarkan perangkat CME FedWatch, probabilitas kenaikan suku bunga 25 basis poin pada pertemuan The Fed pekan depan melonjak menjadi 71,3%, dari sebelumnya 61,2%.

Perubahan ekspektasi ini turut mendongkrak imbal hasil obligasi pemerintah AS. Yield US Treasury tenor 10 tahun naik 2,3 basis poin ke level 4,965%, semakin mendekati angka keramat 5%. Kenaikan imbal hasil obligasi AS ini secara langsung meningkatkan daya tarik aset berdenominasi dolar, sekaligus memberikan tekanan tambahan pada mata uang negara berkembang, termasuk rupiah.

Fokus utama pasar kini beralih ke rilis data inflasi konsumen AS yang dijadwalkan pada Jumat waktu setempat. Data ini menjadi salah satu indikator ekonomi krusial terakhir sebelum The Fed menggelar pertemuan Komite Pasar Terbuka Federal (FOMC) pada 15-16 September mendatang. Inflasi yang lebih tinggi dari perkiraan dapat semakin memperbesar peluang The Fed untuk mengetatkan kebijakan moneter, menguatkan dolar AS, dan menambah beban pada rupiah. Sebaliknya, inflasi yang lebih rendah bisa meredakan ekspektasi pengetatan moneter, memberikan ruang bagi rupiah untuk kembali perkasa.

Jika keberatan atau harus diedit baik Artikel maupun foto Silahkan Laporkan! Terima Kasih

Tags:

Ikutikami :

Tinggalkan komentar