Haluannews Ekonomi – Penutupan perdagangan Jumat (15/8/2025) menorehkan catatan kurang menggembirakan bagi rupiah. Mata uang Garuda melemah 0,30% terhadap dolar AS, parkir di level Rp16.155/US$. Meski demikian, secara mingguan, rupiah masih mencatatkan penguatan 0,80%, seiring tren pelemahan dolar AS secara global.

Related Post
Pergerakan rupiah hari ini tak lepas dari agenda besar negeri, yaitu Sidang Tahunan MPR dan penyampaian Nota Keuangan oleh Presiden Prabowo Subianto. Pidato kenegaraan dan paparan Nota Keuangan yang disampaikan sepanjang hari tersebut turut mewarnai dinamika nilai tukar.

Di sisi eksternal, penguatan dolar AS pada perdagangan Kamis (14/8/2025) menjadi faktor penentu. Hal ini terjadi setelah pasar global merevisi ekspektasi penurunan suku bunga The Fed yang agresif. Data Producer Price Index (PPI) AS yang lebih tinggi dari perkiraan mengindikasikan tekanan inflasi masih tinggi, sehingga peluang penurunan suku bunga 50 bps pada September menipis, dan kini pasar lebih memperkirakan penurunan 25 bps dengan probabilitas 93%.
Sentimen terhadap dolar AS semakin menguat setelah pernyataan hawkish dari pejabat The Fed, Mary Daly dan Alberto Musalem, yang menolak opsi penurunan suku bunga 50 bps. Kenaikan imbal hasil obligasi AS yang terjadi berpotensi memicu arus modal keluar dari pasar negara berkembang, termasuk Indonesia. Situasi ini menjadi tantangan tersendiri bagi stabilitas rupiah.
Editor: Rohman










Tinggalkan komentar