Haluannews Ekonomi – Rupiah kembali tertekan terhadap dolar Amerika Serikat (AS) setelah rilis risalah rapat The Fed. Pada perdagangan Kamis (9/1/2025), rupiah dibuka melemah 0,06% di level Rp 16.200/US$, melanjutkan tren depresiasi dari hari sebelumnya yang mencapai 0,4%. Hal ini sejalan dengan penguatan dolar AS yang ditunjukkan oleh indeks dolar AS/DXY yang, meski turun tipis 0,07% menjadi 109,01, tetap berada di level yang lebih tinggi dibandingkan penutupan perdagangan sebelumnya (109,09).

Related Post
Sentimen eksternal, khususnya rilis risalah rapat The Fed, menjadi faktor utama pelemahan rupiah. Risalah tersebut mengungkapkan kekhawatiran para pejabat The Fed terhadap inflasi dan dampak kebijakan ekonomi yang diusung Presiden terpilih (nama dihilangkan dalam artikel asli). Risalah tersebut setidaknya empat kali menyinggung dampak perubahan kebijakan imigrasi dan perdagangan terhadap ekonomi AS.

Rencana kebijakan ekonomi Presiden terpilih, yang meliputi tarif agresif terhadap Tiongkok, Meksiko, dan Kanada, turut memperkuat dolar AS. Penguatan dolar AS ini tercermin dalam indeks dolar AS (DXY) yang kembali menembus level 109. Tekanan ini pun berimbas pada pelemahan rupiah. Data dari Google Finance menunjukkan posisi rupiah di pasar non-deliverable forward (NDF) pada 8 Januari 2024 pukul 20.00 WIB makin melemah hingga hampir 1%, dengan dolar AS menembus Rp 16.237/US$. Fluktuasi rupiah yang didorong sentimen eksternal ini diperkirakan akan terus menjadi perhatian utama pasar.




Tinggalkan komentar