Rupiah Berjaya! Dolar AS Tumbang ke Rp16.750 di Akhir Tahun

Rupiah Berjaya! Dolar AS Tumbang ke Rp16.750 di Akhir Tahun

Haluannews Ekonomi – Jakarta – Mata uang Garuda menunjukkan performa impresif dengan menguat signifikan terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada penutupan perdagangan Rabu (24/12/2025). Penguatan ini terjadi menjelang dimulainya periode libur panjang perayaan Natal 2025, memberikan sentimen positif di pasar keuangan.

COLLABMEDIANET

Berdasarkan data terkini dari Refinitiv, nilai tukar rupiah terapresiasi sebesar 0,09%, mengakhiri sesi di level Rp16.750 per dolar AS. Kinerja positif ini melanjutkan tren penguatan yang telah terlihat sejak pembukaan perdagangan pagi, di mana rupiah langsung dibuka pada posisi yang sama. Sepanjang hari ini, pergerakan rupiah terpantau stabil dalam rentang Rp16.740 hingga Rp16.755 per dolar AS.

Rupiah Berjaya! Dolar AS Tumbang ke Rp16.750 di Akhir Tahun
Gambar Istimewa : awsimages.detik.net.id

Pada saat yang sama, Indeks Dolar AS (DXY), yang mengukur kekuatan dolar terhadap enam mata uang utama lainnya, tercatat melemah 0,08% ke level 97,860 pada pukul 15.00 WIB. Pelemahan DXY ini merupakan kelanjutan dari tren penurunan yang telah berlangsung selama dua hari berturut-turut, memberikan ruang bagi rupiah untuk semakin mengukuhkan posisinya.

Penguatan rupiah pada perdagangan terakhir pekan ini didorong oleh tekanan global terhadap dolar AS. Greenback terus menghadapi tekanan dalam tiga sesi perdagangan terakhir, mengindikasikan menurunnya minat investor terhadap aset berdenominasi dolar. Sentimen ini sebagian besar dipicu oleh ekspektasi pasar yang semakin kuat mengenai kemungkinan berlanjutnya pelonggaran kebijakan moneter oleh bank sentral AS, The Federal Reserve (The Fed), pada tahun mendatang.

Meskipun data ekonomi terbaru menunjukkan perekonomian AS masih tumbuh solid, dengan Produk Domestik Bruto (PDB) pada kuartal terakhir yang melampaui proyeksi pasar (tumbuh 4,3% secara tahunan dibandingkan estimasi 3,3%), sentimen pasar tetap condong pada prospek penurunan suku bunga. Hal ini menyusul munculnya tanda-tanda pelemahan di pasar tenaga kerja, yang menjadi salah satu fokus utama The Fed dalam menentukan arah kebijakannya. Pelaku pasar menilai bahwa fokus kebijakan The Fed ke depan akan lebih diarahkan pada menjaga momentum pertumbuhan dan stabilitas pasar tenaga kerja, bukan hanya pada data PDB semata.

Saat ini, pasar memperkirakan probabilitas sekitar 87% bahwa The Fed akan mempertahankan suku bunga acuannya pada pertemuan akhir Januari mendatang. Namun, kontrak berjangka suku bunga AS mengindikasikan bahwa pemangkasan suku bunga berikutnya berpotensi dilakukan pada Juni, dengan ekspektasi dua kali penurunan masing-masing 25 basis poin sepanjang tahun 2026.

Kombinasi sentimen ini mendorong investor untuk melakukan rotasi portofolio, beralih dari aset berdenominasi dolar AS ke aset-aset berisiko yang menawarkan potensi imbal hasil lebih tinggi, termasuk di pasar negara berkembang (emerging markets). Fenomena ini turut menjadi katalis positif bagi penguatan mata uang seperti rupiah.

Editor: Rohman

Jika keberatan atau harus diedit baik Artikel maupun foto Silahkan Laporkan! Terima Kasih

Tags:

Ikutikami :

Tinggalkan komentar