Haluannews Ekonomi – Pusat perbelanjaan atau mal kini menjadi destinasi favorit masyarakat. Namun, tahukah Anda bahwa Sarinah, mal tertua dan pertama di Indonesia, menyimpan kisah unik terkait pelarangan penjualan barang mahal? Kisah ini bermula dari ambisi Presiden Soekarno di era 1960-an.

Related Post
Di tengah inflasi tinggi dan proyek-proyek mercusuar lainnya seperti Hotel Indonesia dan Gelora Bung Karno, Soekarno menginisiasi pembangunan Sarinah. Bukan semata-mata proyek konsumtif, Soekarno beralasan pembangunan mal ini sebagai solusi mengatasi kesulitan rakyat dalam memenuhi kebutuhan sandang dan pangan. Visinya? Sebuah mal berorientasi ekonomi sosialis, mempromosikan produk dalam negeri dengan harga terjangkau. Soekarno menginginkan Sarinah menjadi stabilisator harga, di mana harga barang di dalam mal akan menjadi acuan harga di pasaran. "Kalau di department store harganya cuma Rp50, di luar department store, orang tidak berani menjual Rp100," ujar Soekarno, seperti dikutip dari buku Saksi Sejarah (1984).

Dibangun pada 17 Agustus 1962 dengan pendanaan dari uang rampasan perang Jepang, Sarinah resmi dibuka empat tahun kemudian. Mal ini menjadi yang pertama di Asia Tenggara dengan fasilitas pendingin udara dan eskalator. Pada masa awal operasionalnya, Sarinah menjadi etalase produk Indonesia dengan harga murah, sesuai cita-cita Soekarno. Namun, setelah Soekarno lengser pada 1967, orientasi ekonomi Indonesia berubah, dan Sarinah pun tak lagi menjual barang dengan harga murah.
Kini, Jakarta dipenuhi oleh 96 mal. Cita-cita Soekarno untuk menjadikan mal sebagai pusat barang murah semakin sulit terwujud. Kisah Sarinah menjadi pengingat akan sejarah dan visi ekonomi Indonesia di masa lalu.
Editor: Rohman











Tinggalkan komentar