Haluannews Ekonomi – Presiden Prabowo Subianto punya target ambisius: BUMN harus menyumbang minimal US$ 50 miliar per tahun ke kas negara. Untuk mencapai target tersebut, ia menerapkan empat strategi jitu dalam membenahi tata kelola BUMN yang selama ini dianggapnya tidak efisien. Langkah-langkah tersebut diungkapkannya dalam pidato Nota Keuangan RAPBN 2026 di DPR.

Related Post
Perbaikan pengelolaan BUMN, menurut Prabowo, mutlak dilakukan mengingat aset BUMN yang mencapai lebih dari US$ 1.000 triliun. Selama ini, keberadaan komisaris BUMN yang jumlahnya berlebih dan praktik pemberian tantiem yang dianggap tidak masuk akal, dinilai menjadi salah satu penghambat kinerja perusahaan pelat merah. "Tadinya pengelolaan secara tidak masuk akal, perusahaan rugi, komisaris banyak banget," tegas Prabowo.

Berikut empat jurus andalan Prabowo dalam membenahi BUMN:
-
Pangkas Komisaris: Jumlah komisaris BUMN akan dipangkas drastis. Prabowo membatasi jumlah maksimal komisaris menjadi 6 orang per BUMN, bahkan idealnya hanya 4 atau 5 orang saja. Langkah ini dinilai efektif untuk memangkas biaya operasional dan meningkatkan efisiensi.
-
Stop Tantiem Komisaris: Prabowo secara tegas menghapuskan pemberian tantiem kepada komisaris BUMN. Ia menilai pemberian tantiem yang mencapai Rp 40 miliar per tahun untuk komisaris yang hanya rapat sebulan sekali merupakan praktik yang tidak rasional. CEO BPI Danantara, Rosan Roeslani, memperkirakan kebijakan ini dapat menghemat hingga Rp 8 triliun per tahun bagi BUMN. Kebijakan ini tertuang dalam Surat S-063/DI-BP/VII/2025 dan mulai berlaku tahun buku 2025.
-
Bebas Intervensi Penunjukan Direksi: Prabowo menekankan pentingnya profesionalitas dalam penunjukan direksi BUMN. Ia memastikan tidak akan ikut campur tangan dalam proses tersebut, menginginkan agar seleksi dilakukan secara transparan dan berdasarkan kompetensi, bukan berdasarkan koneksi atau kekerabatan. COO Danantara, Dony Oskaria, menegaskan bahwa penunjukan direksi sepenuhnya dilakukan oleh tim assesmen Danantara berdasarkan profesionalitas.
-
Berantas Laporan Keuangan Abal-abal: Prabowo menginstruksikan agar laporan keuangan BUMN dibuat secara transparan dan akurat. Ia tidak ingin lagi melihat laporan keuangan yang dipoles atau tidak mencerminkan kondisi riil perusahaan. Danantara akan melakukan review menyeluruh terhadap bisnis BUMN, termasuk mengevaluasi kemampuan internal perusahaan untuk meningkatkan daya saing. Dony Oskaria mengungkapkan bahwa 52% BUMN mengalami kerugian dengan total kerugian mencapai Rp 50 triliun per tahun.
Dengan strategi-strategi tersebut, Prabowo optimistis BUMN dapat berkontribusi signifikan terhadap pembangunan nasional dan penerimaan negara. Target US$ 50 miliar per tahun dari kontribusi BUMN diharapkan dapat tercapai, sekaligus mengakhiri defisit APBN.
Editor: Rohman










Tinggalkan komentar