Rahasia Mantan Polisi Raup Rp216 Miliar Dari ATM

Rahasia Mantan Polisi Raup Rp216 Miliar Dari ATM

haluannews.id – Paul Alex, seorang mantan aparat penegak hukum dari San Francisco, kini hidup dalam kemewahan setelah membuat keputusan drastis meninggalkan seragam polisinya. Ia banting setir ke dunia bisnis anjungan tunai mandiri (ATM) dan sukses meraup kekayaan fantastis senilai US$12 juta atau setara Rp216 miliar. Kisah inspiratifnya ini diungkap oleh The Sun US pada Minggu (5/7/2026), sebagaimana dilansir oleh haluannews.id.

COLLABMEDIANET

Sebelum terjun ke dunia wirausaha, rekam jejak Alex di kepolisian terbilang sangat gemilang. Ia pernah menduduki posisi detektif di Satuan Tugas Narkotika, bahkan bergabung dengan Unit Korban Khusus dan diakui sebagai personel berprestasi. Pada tahun 2020, gajinya sebagai polisi mencapai US$133.000 atau sekitar Rp2,39 miliar per tahun, belum termasuk bonus dan tunjangan yang membuat total pendapatannya menyentuh angka US$272.000 atau Rp4,89 miliar.

Rahasia Mantan Polisi Raup Rp216 Miliar Dari ATM
Gambar Istimewa : awsimages.detik.net.id

Namun, di balik angka fantastis itu, Alex merasa kehilangan keseimbangan antara kehidupan profesional dan pribadinya. Ia seringkali harus bekerja 60 hingga 100 jam setiap minggunya, sebuah ritme yang menguras tenaga dan waktu. Kondisi ini mendorongnya untuk mencari jalan keluar, berinvestasi pada aset bergerak yang bisa memberikan penghasilan pasif. Setelah sempat mempertimbangkan bisnis properti, Alex akhirnya menjatuhkan pilihan pada investasi mesin ATM. Ide ini muncul dari obrolan dengan rekan kerjanya pada tahun 2017, yang kemudian ia dalami melalui berbagai grup di media sosial.

Meskipun jauh dari latar belakang kepolisiannya, bisnis ATM menarik perhatian Alex karena modal awal yang relatif kecil, sekitar US$3.000 atau Rp54 juta, dengan risiko yang minim. Fleksibilitas untuk memindahkan mesin jika lokasi tidak menguntungkan juga menjadi nilai tambah. Pada tahun 2018, Alex mulai merintis bisnisnya. Ia mengambil cuti dua minggu khusus untuk mencari lokasi strategis, membidik area ramai seperti tempat wisata, klub malam, dan restoran, demi memastikan perputaran transaksi yang cepat. Tantangan awal tidak mudah. "Saat pertama kali memulai, saya banyak mendapat penolakan. Sangat sulit bagi saya untuk bekerja sebagai polisi sambil memikirkan bisnis sampingan ini," kenangnya.

Meski target awalnya hanya tiga titik, Alex berhasil mengamankan enam lokasi untuk mesin ATM-nya: tiga di toko minuman keras, dua di salon, dan satu di salon kecantikan. Mesin-mesin ini dengan cepat menghasilkan keuntungan. Hanya dalam tiga tahun, ia mantap meninggalkan pekerjaannya di kepolisian untuk fokus penuh pada bisnis ATM. Awalnya, ia mengisi setiap mesin dengan uang tunai sekitar US$2.000-3.000 (Rp36 juta-Rp54 juta). Penghasilan minimal dari satu mesin saat itu sekitar US$200 (Rp3,6 juta). Alex segera menyadari bahwa toko minuman keras adalah lokasi paling menguntungkan, menghasilkan komisi antara US$250-500 (Rp4,5 juta-Rp9 juta) per bulan per mesin. Sementara lokasi lain memberikan pendapatan US$25-100 (Rp450 ribu-Rp1,8 juta) per mesin.

Alex tidak sendirian. Ia belajar banyak dari seorang mentor di Facebook yang telah lebih dulu sukses di bisnis ini. Berkat masukan mentornya, ia memindahkan tiga mesin ATM dari salon kecantikan dan potong rambut ke supermarket serta toko minuman keras. Keputusan ini berbuah manis, profit bulanannya melonjak hingga US$600, dan dalam waktu setengah tahun, keuntungannya mencapai US$3.000 per bulan.

Untuk mengatasi kebutuhan modal pengisian uang tunai di mesin ATM, Alex menggunakan dua kartu kredit tanpa bunga selama tahun pertama, memberinya waktu untuk mengumpulkan lebih banyak kas tanpa beban biaya tambahan. Ia juga menyadari bahwa mekanisme diskon awal yang ditawarkan agen tidak menguntungkan karena harus membayar komisi 30%. Alex kemudian memilih membeli mesin ATM langsung dari produsen, dengan harga sekitar US$1.800-2.200 per unit, sehingga ia tidak perlu lagi berbagi keuntungan dengan agen.

Dua tahun setelah memulai, pada tahun 2020, Alex telah memiliki 30 mesin ATM di San Francisco, dengan setiap mesin mampu menghasilkan keuntungan antara US$250 hingga US$1.500 per bulan. Puncaknya pada tahun 2021, setelah keuntungannya berlipat ganda, ia resmi mengundurkan diri dari kepolisian. Setelah sepenuhnya fokus pada bisnisnya, Alex menjalin kemitraan dengan penyedia layanan ATM, yang membuat pengelolaan bisnisnya menjadi jauh lebih efisien dan santai. Pelajaran berharga yang ia petik dari perjalanan bisnisnya adalah pentingnya berinvestasi pada diri sendiri.

"Semuanya bermula dari ide seorang rekan kerja. Saya kemudian mengambil ide itu, mendalaminya, menggunakan berbagai media, dan membaca banyak sumber. Akhirnya, saya berani mengeksekusinya hingga mencapai titik ini," pungkas Alex, membagikan rahasia kesuksesannya.

Jika keberatan atau harus diedit baik Artikel maupun foto Silahkan Laporkan! Terima Kasih

Tags:

Ikutikami :

Tinggalkan komentar