Haluannews Ekonomi – PT Baramulti Suksessarana Tbk (BSSR), emiten tambang batu bara, secara mengejutkan memangkas produksi. Direktur Utama BSSR, Widada, mengungkapkan kebijakan perang tarif era Presiden AS Donald Trump sebagai biang keladinya. Dampaknya, perekonomian China, pasar ekspor batu bara terbesar, terganggu.

Related Post
"Perang tarif menimbulkan tantangan luar biasa bagi perkembangan ekonomi China, yang merupakan tujuan ekspor utama batu bara kita," ujar Widada dalam keterangannya di Jakarta. Haluannews.id mencatat, penurunan produksi batu bara BSSR tahun ini lebih dari 10% dibandingkan tahun 2024. Produksi yang semula mencapai 21 juta metrik ton (MT) kini anjlok menjadi 18,5 MT.

Meskipun demikian, BSSR tetap optimistis mampu menjaga kinerja keuangannya. Widada menekankan perlunya strategi bijak menghadapi tantangan penurunan harga batu bara di pasar global. "Penurunan produksi bukan hanya dilakukan BSSR, kondisi pasar batu bara yang menantang di tahun ini mengharuskan langkah tersebut," tegasnya. Keputusan strategis ini menjadi sorotan bagi pelaku pasar dan memicu pertanyaan lebih lanjut mengenai strategi BSSR dalam menghadapi fluktuasi harga komoditas global. Langkah ini dinilai sebagai antisipasi yang cermat untuk menjaga keberlangsungan bisnis di tengah ketidakpastian pasar.
Editor: Rohman










Tinggalkan komentar