Haluannews Ekonomi – Siapa sangka, di balik berdirinya Bank Negara Indonesia (BNI), bank pertama di Indonesia, terdapat sosok penting yang tak banyak diketahui publik: Margono Djojohadikusumo, kakek dari Menteri Pertahanan Prabowo Subianto. Perannya dalam perjuangan ekonomi bangsa Indonesia pasca kemerdekaan begitu krusial, bahkan di tengah gejolak politik dan ekonomi saat itu.

Related Post
Setelah proklamasi kemerdekaan 17 Agustus 1945, Margono, kala itu menjabat Ketua Dewan Pertimbangan Agung, bersama Soerachman, Menteri Kemakmuran, sepakat akan pentingnya bank sentral. Namun, perbedaan pandangan muncul. Margono menekankan pentingnya bank sentral yang benar-benar milik dan dibangun oleh bangsa Indonesia sendiri, bukan warisan kolonial. Semangat nasionalisme yang membara mendorongnya untuk membangun lembaga keuangan nasional dari nol, terlepas dari tantangan yang ada. Berbeda dengan Soerachman yang lebih pragmatis, menganggap menghidupkan kembali De Javasche Bank (DJB) peninggalan Belanda lebih efisien.

Namun, rencana tersebut terganjal oleh kembalinya Belanda ke Indonesia. Haluannews.id mengutip buku "Semarang Sebagai Simpul Ekonomi (2022)", Belanda berniat menghidupkan kembali DJB untuk menguasai ekonomi Indonesia, termasuk mencetak dan mengedarkan mata uang sendiri. Inilah yang semakin memperkuat argumen Margono.
Dengan dukungan Soekarno dan Hatta, Margono bergerak cepat. Sejak September 1945, ia telah mengurus Yayasan Poesat Bank Indonesia dan mendirikan BNI. Pada 5 Juli 1946, pemerintah resmi mendirikan BNI berdasarkan Perpu No. 2 Tahun 1946, berfungsi sebagai bank sentral sekaligus bank umum. Modalnya berasal dari sumbangan rakyat.
BNI pun berperan sebagai garda terdepan dalam pertempuran ekonomi melawan DJB. Perang mata uang pun tak terhindarkan, dengan BNI menerbitkan Oeang Republik Indonesia (ORI) untuk melawan uang NICA dari DJB. Sayangnya, agresi militer Belanda membuat operasional BNI terhambat, banyak cabang ditutup, dan asetnya dirampas. Namun, kendala ini murni faktor eksternal, bukan kesalahan manajemen BNI.
Setelah kemerdekaan penuh tahun 1949, BNI bangkit kembali. Namun, perannya sebagai bank sentral memudar pada 1953 setelah pemerintah mengambil alih DJB dan membentuk Bank Indonesia. Status BNI sebagai bank sentral resmi dicabut pada 1968, dan bertransformasi menjadi bank pelat merah seperti yang kita kenal saat ini. Kisah BNI tak hanya sekadar sejarah perbankan, tetapi juga cerminan perjuangan ekonomi bangsa Indonesia di masa awal kemerdekaan.
Editor: Rohman




Tinggalkan komentar