Premi Asuransi Melejit Tapi Bahaya Mengintai

Premi Asuransi Melejit Tapi Bahaya Mengintai

haluannews.id – Industri asuransi kredit di Indonesia tengah menghadapi dilema menarik. Di satu sisi, lonjakan penyaluran kredit perbankan membuka lebar peluang bisnis yang menggiurkan. Namun di sisi lain, bayang-bayang rasio klaim yang tinggi akibat potensi kredit macet menjadi ancaman serius yang tak bisa diabaikan. Otoritas Jasa Keuangan OJK mendesak agar sektor ini tak hanya terlena dengan pertumbuhan premi, melainkan juga memperkuat fondasi manajemen risiko.

COLLABMEDIANET

Data OJK per Juni 2026 menunjukkan kinerja impresif lini usaha kredit pada industri asuransi umum dan reasuransi. Sektor ini berhasil membukukan pendapatan premi fantastis sebesar Rp1187 triliun. Kinerja ini melonjak 710 persen secara tahunan, sebuah angka yang mencerminkan geliat ekonomi dan kepercayaan terhadap produk asuransi.

Premi Asuransi Melejit Tapi Bahaya Mengintai
Gambar Istimewa : awsimages.detik.net.id

Namun di balik gemerlap angka premi, tersimpan fakta yang kurang menyenangkan. Kepala Eksekutif Pengawas Perasuransian Penjaminan dan Dana Pensiun OJK Ogi Prastomiyono mengungkapkan bahwa beban klaim yang harus ditanggung industri ini mencapai Rp1085 triliun. Angka ini mencerminkan rasio klaim yang mengkhawatirkan di angka 9144 persen.

"Meskipun pertumbuhan kredit perbankan menawarkan peluang besar bagi asuransi kredit, industri harus mengimbanginya dengan penguatan fundamental. Ini termasuk peningkatan kualitas underwriting penataan portofolio yang lebih baik penetapan harga berbasis risiko kecukupan reasuransi serta efektivitas proses pemulihan dan subrogasi" tegas Ogi dalam keterangan tertulisnya Rabu 2 September 2026.

OJK menegaskan kembali pentingnya bagi pelaku industri untuk tidak sekadar mengejar volume premi. Lebih jauh, mereka harus memprioritaskan kualitas risiko profitabilitas jangka panjang dan keberlangsungan bisnis yang berkelanjutan.

Fenomena ini tak lepas dari geliat sektor perbankan. Bank Indonesia BI mencatat pertumbuhan kredit perbankan pada Juni 2026 mencapai 1267 persen secara tahunan. Angka ini meningkat signifikan dari bulan sebelumnya yang sebesar 1151 persen.

Pertumbuhan kredit ini didorong oleh berbagai segmen. Kredit investasi memimpin dengan lonjakan 2490 persen secara tahunan. Disusul oleh kredit modal kerja yang tumbuh 894 persen dan kredit konsumsi sebesar 575 persen pada periode yang sama.

Meskipun demikian dari sisi kualitas kredit OJK mencatat rasio non-performing loan NPL gross berada di level 209 persen dan NPL net sebesar 082 persen. Sementara itu rasio loan at risk LAR tercatat stabil di angka 847 persen. Angka-angka ini menunjukkan bahwa meskipun risiko kredit macet masih terkendali saat ini kewaspadaan tetap menjadi kunci bagi industri asuransi kredit di masa depan.

Jika keberatan atau harus diedit baik Artikel maupun foto Silahkan Laporkan! Terima Kasih

Tags:

Ikutikami :

Tinggalkan komentar