Pesta Cuan Usai? IHSG Terpangkas Tipis, Geopolitik & The Fed Mengancam!

Haluannews Ekonomi – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengawali perdagangan Kamis (9/4/2026) dengan sedikit koreksi, memangkas sebagian kenaikan fantastis yang terjadi sehari sebelumnya. Pada penutupan sesi pertama, indeks ditutup melemah 0,15%, parkir di level 7.268,03, atau turun 11,17 poin. Penurunan ini terjadi setelah IHSG melesat lebih dari 4% pada perdagangan sebelumnya, memicu pertanyaan tentang keberlanjutan momentum positif di tengah gejolak global.

COLLABMEDIANET

Data dari Haluannews.id menunjukkan, sebanyak 360 saham mengalami penurunan, sementara 275 saham berhasil menguat, dan 173 saham lainnya stagnan. Aktivitas transaksi cukup ramai dengan nilai mencapai Rp 8,84 triliun, melibatkan 16,64 miliar saham yang diperdagangkan dalam 1,33 juta kali transaksi. Akibat koreksi ini, kapitalisasi pasar ikut terkoreksi menjadi Rp 12.832 triliun.

Pesta Cuan Usai? IHSG Terpangkas Tipis, Geopolitik & The Fed Mengancam!
Gambar Istimewa : awsimages.detik.net.id

Mayoritas sektor perdagangan mencatatkan pelemahan. Sektor finansial, teknologi, dan properti menjadi yang paling tertekan, menunjukkan sentimen negatif yang kuat di segmen-segmen tersebut. Di sisi lain, sektor energi, infrastruktur, dan konsumer non-primer berhasil membukukan penguatan signifikan, memberikan sedikit penyeimbang di tengah tekanan pasar.

Emiten perbankan raksasa tercatat menjadi penekan utama kinerja indeks pada sesi ini, dengan saham BBCA, BBRI, dan BMRI mendudung daftar laggard teratas. Sementara itu, saham-saham yang paling aktif diperdagangkan oleh investor berdasarkan nilai transaksi adalah BUMI, BBCA, BBRI, BMRI, dan DEWA.

Pasar keuangan Indonesia sebetulnya diharapkan melanjutkan tren penguatan. Namun, bayang-bayang sentimen negatif global, terutama perkembangan perang yang tak sesuai ekspektasi serta risalah Federal Open Market Committee (FOMC) yang cenderung hawkish, berpotensi menekan kinerja saham dan nilai tukar rupiah.

Di kancah global, pasar saham Asia-Pasifik bergerak bervariasi pada Kamis (9/4/2026), diwarnai meningkatnya ketegangan geopolitik antara Iran dan Amerika Serikat. Parlemen Iran menuduh AS melanggar kesepakatan gencatan senjata dua pekan yang sebelumnya diumumkan. Presiden AS Donald Trump sebelumnya mengumumkan gencatan senjata "dua arah" sebagai dasar negosiasi, dengan syarat Iran membuka kembali Selat Hormuz yang menjadi jalur vital energi global. Namun, Ketua Parlemen Iran, Mohammad Bagher Ghalibaf, menuding AS melakukan pelanggaran, termasuk penolakan hak pengayaan uranium Iran, serangan Israel di Lebanon, dan masuknya drone ke wilayah udara Iran.

Dampak dari ketidakpastian ini terlihat di pasar regional. Indeks Kospi Korea Selatan turun 0,6%, sementara Kosdaq bergerak datar. Di Jepang, Nikkei 225 naik tipis 0,12% dan Topix menguat 0,26%, namun S&P/ASX 200 Australia melemah 0,24%.

Ketidakpastian geopolitik ini turut memicu lonjakan harga minyak dunia. Kontrak berjangka West Texas Intermediate (WTI) untuk Mei naik 2,3% menjadi US$96,63 per barel, sementara Brent kontrak Juni menguat 1,87% ke US$96,50 per barel.

Di pasar berjangka AS, kontrak S&P 500 dan Nasdaq 100 masing-masing turun 0,1%, sementara Dow Jones Industrial Average melemah 32 poin atau kurang dari 0,1%. Ini kontras dengan lonjakan tajam Wall Street sehari sebelumnya, di mana Dow Jones melesat 2,85% dan S&P 500 serta Nasdaq Composite juga menguat signifikan, menyusul meredanya konflik yang sempat menutup jalur pasokan energi global.

Sentimen lain yang menjadi sorotan investor adalah sinyal dari Federal Reserve. Risalah rapat Federal Open Market Committee (FOMC) Maret menunjukkan sejumlah pejabat The Fed mulai membuka peluang kenaikan suku bunga. Hal ini dipicu oleh inflasi yang tetap di atas target 2%, terutama karena lonjakan harga energi akibat konflik Timur Tengah. The Fed kini mengadopsi pendekatan "dua arah," mengindikasikan suku bunga bisa naik atau turun tergantung arah inflasi. Mayoritas peserta rapat menilai risiko inflasi meningkat, terutama jika harga energi tetap tinggi dan mendorong inflasi inti, serta berisiko menaikkan ekspektasi inflasi jangka panjang.

Editor: Rohman

Jika keberatan atau harus diedit baik Artikel maupun foto Silahkan Laporkan! Terima Kasih

Tags:

Ikutikami :

Tinggalkan komentar