haluannews.id – Kinerja keuangan PT Pos Indonesia terperosok tajam pada tahun 2025, mencatat penurunan pendapatan yang signifikan akibat hilangnya proyek-proyek pemerintah. Direktur Utama PT Pos Indonesia, Daud Joseph, mengungkapkan bahwa perusahaan pelat merah ini masih sangat bergantung pada suntikan dana dari program-program negara untuk menopang operasionalnya.

Related Post
Dalam Rapat Dengar Pendapat (RDP) bersama Komisi VI DPR RI di Jakarta pada Senin (22/6/2026), Daud Joseph memaparkan bahwa sepanjang tahun 2025, PT Pos hanya mampu membukukan pendapatan usaha sebesar Rp3,9 triliun. Angka ini melorot 20% dibandingkan perolehan tahun 2024 yang mencapai Rp5 triliun. Padahal, target pendapatan untuk tahun 2025 dipatok sebesar Rp6,2 triliun, yang berarti hanya 63% dari target yang berhasil dicapai.

Dampak domino dari penurunan pendapatan ini sangat terasa. Laba kotor (gross profit) perusahaan jauh dari ekspektasi, hanya mencapai Rp1,5 triliun dari target Rp2,4 triliun. Lebih parah lagi, EBITDA atau laba bersih anjlok drastis, hanya menyentuh Rp300 miliar dari target Rp800 miliar.
Pukulan terberat dialami segmen bisnis logistik. Portofolio bisnis logistik yang pada tahun sebelumnya mampu menyumbang Rp2 triliun, kini hanya menghasilkan sekitar Rp600 miliar. Daud Joseph menjelaskan, kemerosotan ini dipicu oleh berakhirnya program-program distribusi pangan dan beras dari pemerintah. Meski demikian, layanan logistik kurir untuk barang di bawah 30 kilogram masih menunjukkan ketahanan, dengan kontribusi sebesar Rp1,8 triliun.
Sementara itu, layanan jasa keuangan seperti pembayaran pensiun, kredit, transfer, dan tagihan tetap kokoh menyumbang Rp1,2 triliun. Sektor properti juga mengalami peningkatan, namun kontribusinya terhadap total pendapatan masih terbilang kecil. Daud Joseph menegaskan bahwa data-data ini merupakan laporan keuangan unaudited yang masih dalam proses audit dan akan disampaikan kembali setelah final.
Joseph lebih lanjut menjelaskan bahwa dalam lima tahun terakhir, tepatnya sejak 2020 hingga 2024, kinerja keuangan PT Pos Indonesia selalu "menghijau" atau positif. Peningkatan pendapatan kala itu sejalan dengan derasnya kontribusi proyek-proyek pemerintah. Pada tahun 2020, pendapatan PT Pos bahkan mencapai Rp5,4 triliun.
"Kontribusi dari bantuan proyek pemerintah, baik itu bantuan sosial, bantuan beras, maupun bantuan pangan yang disalurkan kepada warga masyarakat, sangat mendukung dan membantu pendapatan Pos Indonesia," ungkapnya.
Namun, ketika pada tahun 2025 kontribusi proyek pemerintah anjlok drastis menjadi hanya Rp300 miliar, total pendapatan perusahaan langsung terjun bebas ke angka Rp3,9 triliun. Hal ini membuktikan bahwa PT Pos Indonesia memang sangat terbantu oleh program pemerintah dan menghadapi tantangan besar untuk kembali memaksimalkan potensi inti bisnisnya tanpa ketergantungan tersebut. Perusahaan kini dihadapkan pada pekerjaan rumah besar untuk menemukan sumber pendapatan baru yang berkelanjutan.








Tinggalkan komentar