Gawat IHSG Terjun Bebas Ada Apa di Balik Ini

Gawat IHSG Terjun Bebas Ada Apa di Balik Ini

haluannews.id – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengawali pekan ini dengan performa yang kurang memuaskan, bahkan cenderung mengkhawatirkan. Pada penutupan sesi perdagangan perdana Senin (22/6/2026), pasar saham domestik harus rela merosot tajam 1,25%, atau setara dengan kehilangan 77,21 poin, sehingga parkir di level 6.099,92. Penurunan ini terjadi di tengah harapan akan membaiknya sejumlah sentimen pasar.

COLLABMEDIANET

Meskipun dibuka di zona hijau pada level 6.217,05, optimisme investor tak bertahan lama. Sepanjang sesi, IHSG sempat menyentuh puncak 6.226,72 namun kemudian terperosok hingga titik terendah 6.052,94, sebelum sedikit membaik menjelang penutupan. Data dari Bursa Efek Indonesia (BEI) menunjukkan aktivitas transaksi yang cukup padat, mencapai Rp 7,62 triliun. Sebanyak 13,43 miliar saham berpindah tangan melalui 1,10 juta kali transaksi. Namun, dominasi saham yang melemah sangat kentara, dengan 476 saham ambruk, berbanding 200 saham yang menguat, dan 135 saham stagnan. Total kapitalisasi pasar BEI kini berada di angka Rp 10.696 triliun.

Gawat IHSG Terjun Bebas Ada Apa di Balik Ini
Gambar Istimewa : awsimages.detik.net.id

Kinerja sektor-sektor di bursa juga mayoritas lesu. Hanya sektor properti dan energi yang mampu bertahan di zona positif. Sementara itu, sektor kesehatan, barang baku, dan infrastruktur menjadi yang paling terpukul, mengalami koreksi paling dalam.

Pelemahan IHSG tak lepas dari tekanan saham-saham berkapitalisasi besar. Bank Central Asia (BBCA) menjadi penyeret utama dengan kontribusi pelemahan hingga 9,37 indeks poin. Selain BBCA, saham-saham raksasa lain seperti TLKM, BMRI, SMMA, dan BBRI juga turut membebani kinerja indeks secara signifikan, membuat investor was-was.

Di balik kemerosotan ini, pelaku pasar tengah mencermati serangkaian faktor pemicu baik dari dalam maupun luar negeri. Dari domestik, perhatian tertuju pada pengumuman MSCI Classification yang dijadwalkan pada 24 Juni 2026. Sebelumnya, MSCI telah merilis laporan Global Market Accessibility Review 2026 yang mempertahankan status Indonesia sebagai Emerging Market. Kendati demikian, laporan tersebut memberikan catatan penting: penilaian Indonesia pada kriteria "Information Flow" atau arus informasi diturunkan dari sebelumnya "+" menjadi "-". Pengumuman MSCI pekan ini akan menjadi penentu. Jika catatan negatif tidak bertambah, tekanan pasar bisa mereda. Namun, sinyal negatif tambahan dari MSCI dapat memicu kekhawatiran baru terhadap arus dana asing.

Sementara itu, dinamika geopolitik global juga turut menyumbang ketidakpastian. Perkembangan konflik antara Amerika Serikat dan Iran menjadi sorotan utama. Harapan akan perdamaian sempat membuncah setelah Presiden AS Donald Trump dan Presiden Iran Masoud Pezeshkian menandatangani nota kesepahaman damai secara virtual pekan lalu. Namun, jalan menuju kesepakatan permanen terbukti berliku. Perundingan damai yang seharusnya digelar di Swiss justru batal.

Situasi semakin memanas dengan ancaman terbaru dari Presiden AS Donald Trump yang menyatakan akan kembali menyerang Iran. Ancaman ini muncul di tengah pertemuan Wakil Presiden AS JD Vance dengan pejabat Iran di Swiss, yang ironisnya dibayangi keputusan Teheran untuk kembali menutup Selat Hormuz. Iran beralasan penutupan itu sebagai respons atas kegagalan AS memastikan gencatan senjata di Lebanon. Trump menuntut Iran menghentikan dukungannya terhadap Hezbollah dan memperingatkan konsekuensi yang lebih berat jika konflik berlanjut, bahkan mengancam Iran akan "kehilangan negaranya" jika Selat Hormuz tetap ditutup. Bagi pasar global, Selat Hormuz adalah jalur vital perdagangan minyak dunia. Eskalasi ketegangan di sana berpotensi besar mengganggu pasokan energi global dan menjaga harga minyak tetap tinggi, menambah beban bagi perekonomian dunia.

Jika keberatan atau harus diedit baik Artikel maupun foto Silahkan Laporkan! Terima Kasih

Tags:

Ikutikami :

Tinggalkan komentar