IHSG Nyaris Terjun Bebas Diselamatkan Ini

IHSG Nyaris Terjun Bebas Diselamatkan Ini

haluannews.id – Indeks Harga Saham Gabungan IHSG pada perdagangan Selasa 23 Juni 2026 sempat merasakan tekanan hebat namun berhasil memangkas koreksi signifikan. Di tengah sentimen wait and see pelaku pasar yang menanti pengumuman penting dari MSCI besok indeks acuan bursa Indonesia ini akhirnya ditutup melemah tipis 025 persen atau 1536 poin di level 610133. Padahal sebelumnya IHSG sempat terperosok lebih dalam hingga menyentuh level 599304 pada sesi kedua.

COLLABMEDIANET

Aktivitas perdagangan hari ini cukup semarak dengan total nilai transaksi mencapai Rp 3294 triliun. Sebanyak 4154 miliar saham berpindah tangan dalam 179 juta kali transaksi. Dari ratusan emiten yang diperdagangkan 282 saham berhasil menguat 373 saham terkoreksi dan 160 saham bergerak stagnan. Saham-saham seperti DSSA TPIA BBCA BBRI dan BMRI menjadi primadona dengan volume transaksi terpadat.

IHSG Nyaris Terjun Bebas Diselamatkan Ini
Gambar Istimewa : awsimages.detik.net.id

Mayoritas sektor perdagangan menunjukkan penguatan namun sektor energi menjadi penekan utama dengan koreksi terdalam mencapai 362 persen. Sektor finansial dan konsumer juga turut merasakan tekanan. Secara spesifik saham Bayan Resources BYAN yang baru saja melewati tanggal ex-dividen kemarin menjadi beban signifikan bagi IHSG menyumbang pelemahan hingga 2066 indeks poin. Emiten kelas kakap lain yang ikut memberatkan kinerja indeks antara lain BBCA BMRI dan MDKA.

Kewaspadaan investor memang tak lepas dari jadwal pengumuman MSCI Classification pada 24 Juni 2026. Nasib pasar Indonesia apakah akan tetap bertahan sebagai Emerging Market EM atau terdegradasi menjadi Frontier Market menjadi penentu arah selanjutnya.

Namun di balik bayang-bayang ketidakpastian tersebut beberapa angin segar turut berhembus dan menjadi penyelamat IHSG dari keterpurukan lebih dalam. Meredanya ketegangan geopolitik di Timur Tengah menjadi salah satu pemicu utama. Perkembangan positif dalam hubungan Amerika Serikat AS dan Iran di mana AS melonggarkan sanksi selama 60 hari setelah putaran awal perundingan damai menunjukkan kemajuan signifikan langsung direspons cepat oleh pasar.

Harga minyak dunia pun anjlok sebagai dampaknya. Minyak Brent untuk pengiriman Agustus ditutup turun 331 persen ke level US$7790 per barel sementara minyak mentah West Texas Intermediate WTI melemah 232 persen menjadi US$7482 per barel. Penurunan harga komoditas energi ini merupakan kabar baik bagi Indonesia sebagai negara net importir minyak. Harga energi yang lebih rendah berpotensi meredam laju inflasi menjaga stabilitas rupiah dan memperbaiki prospek fiskal pemerintah.

Dari dalam negeri pemerintah juga tak tinggal diam. Paket stimulus ekonomi senilai Rp 2634 triliun untuk semester II-2026 baru saja diumumkan. Stimulus ini mencakup beragam program mulai dari bantuan pangan program magang nasional diskon transportasi subsidi tiket pesawat hingga insentif bagi sektor industri. Harapannya paket ini mampu menjaga daya beli masyarakat dan menopang pertumbuhan ekonomi di tengah gejolak global.

Selain itu pasar juga mencermati rencana pemerintah untuk menerbitkan Panda Bond atau surat utang berdenominasi yuan China. Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menjelaskan skema ini dapat mengurangi ketergantungan terhadap dolar AS dan membantu meredakan tekanan terhadap rupiah melalui mekanisme transaksi mata uang lokal atau Local Currency Transaction LCT. Berbagai sentimen ini menjadi penyeimbang di tengah gejolak dan ketidakpastian yang masih menyelimuti pasar.

Jika keberatan atau harus diedit baik Artikel maupun foto Silahkan Laporkan! Terima Kasih

Tags:

Ikutikami :

Tinggalkan komentar