Pegadaian Siap Gebrak Bursa Ini Bocoran Bos

Pegadaian Siap Gebrak Bursa Ini Bocoran Bos

haluannews.id – Spekulasi mengenai potensi PT Pegadaian untuk melantai di bursa saham melalui penawaran umum perdana (IPO) kini semakin santer terdengar. Perusahaan pembiayaan yang identik dengan layanan gadai ini menyatakan kesiapannya untuk menindaklanjuti arahan dari BPI Danantara selaku pemegang saham pengendali, meski jadwal pasti pelaksanaannya masih menjadi misteri.

COLLABMEDIANET

Direktur Utama Pegadaian, Damar Latri Setiawan, dengan yakin mengutarakan bahwa performa perusahaan terus menunjukkan tren positif dan sangat membanggakan. "Alhamdulillah, kinerja Pegadaian terus tumbuh dan bagus. Kami selalu siap menjalankan arahan dari Danantara," ungkap Damar kepada haluannews.id belum lama ini. Namun, Damar memilih untuk tidak memberikan detail lebih lanjut terkait perkiraan waktu IPO, hanya menegaskan bahwa pihaknya akan mengikuti setiap proses yang berlaku.

Pegadaian Siap Gebrak Bursa Ini Bocoran Bos
Gambar Istimewa : awsimages.detik.net.id

Dorongan untuk menjadikan Pegadaian sebagai perusahaan publik datang dari Kepala BP BUMN sekaligus COO Danantara, Dony Oskaria. Ia sebelumnya telah mengisyaratkan bahwa beberapa Badan Usaha Milik Negara (BUMN) akan didorong untuk segera go public, dan PT Pegadaian termasuk dalam daftar tersebut.

Wacana IPO Pegadaian ini disambut baik oleh para pengamat pasar modal. Mereka melihat prospek yang menjanjikan, meskipun ada pandangan bahwa perusahaan belum dapat segera melantai di Bursa Efek Indonesia (BEI mengingat kondisi pasar yang belum sepenuhnya kondusif.

Pengamat pasar modal, Elandry Pratama, menilai potensi IPO Pegadaian sangat menarik. Menurutnya, perusahaan ini memiliki fundamental bisnis yang kokoh, bersifat defensif, didukung oleh merek yang kuat di tengah masyarakat, jaringan operasional yang luas, serta basis nasabah yang masif. Elandry berpendapat, langkah IPO ini bisa menjadi strategi vital untuk mengukuhkan permodalan, menopang ekspansi bisnis, mengembangkan layanan digital, sekaligus meningkatkan transparansi dan tata kelola perusahaan. "Investor nantinya perlu melihat kewajaran valuasi dibandingkan prospek pertumbuhan dan emiten sektor keuangan lainnya," tambah Elandry kepada haluannews.id.

Terkait waktu eksekusi, Elandry menyarankan agar IPO Pegadaian idealnya dilakukan ketika kondisi pasar lebih mendukung, likuiditas meningkat, dan selera risiko investor kembali membaik. Dengan sentimen pasar yang positif, peluang untuk mendapatkan valuasi optimal bagi perusahaan dan respons positif dari investor akan semakin besar.

Senada, Investment Analyst Infovesta Kapital Advisori, Ekky Topan, juga melihat prospek IPO Pegadaian cukup positif dan berpotensi mendapat sambutan hangat dari pasar. Ia menjelaskan, model bisnis Pegadaian relatif tahan banting karena sebagian besar pembiayaan dijamin oleh agunan yang likuid, terutama emas. Posisi kompetitifnya juga sangat kuat, dengan dominasi sekitar 80% pangsa pasar pergadaian dan basis sekitar 19 juta nasabah.

Lebih lanjut, integrasi dengan BRI dan PNM dalam Holding Ultra Mikro diyakini dapat memperluas jangkauan nasabah, memperkuat distribusi, dan meningkatkan efisiensi pendanaan. Kinerja keuangan Pegadaian juga menunjukkan performa yang solid. Hingga April 2026, aset Pegadaian tercatat mencapai Rp183,8 triliun, melonjak 56% secara tahunan (yoy). Outstanding loan (OSL) juga naik 58,8% menjadi Rp153,6 triliun, dan laba bersih perusahaan melesat 87,2% mencapai Rp4,38 triliun.

Selain bisnis inti gadai, Ekky juga menggarisbawahi potensi besar dari bisnis bullion (emas batangan). Pegadaian telah memiliki basis nasabah, jaringan penyimpanan emas, pengalaman dalam penaksiran, serta aliran emas dari bisnis gadai. "Bisnis ini berpotensi menjadi sumber pertumbuhan baru melalui produk seperti tabungan emas, deposito emas, perdagangan emas, penitipan, dan pembiayaan berbasis emas," paparnya.

Namun, keberhasilan IPO Pegadaian, menurut Ekky, akan sangat bergantung pada valuasi yang ditawarkan dan struktur penawarannya. Investor perlu mencermati apakah dana IPO akan digunakan untuk memperkuat modal dan mendanai ekspansi, atau sebagian besar hanya berupa pelepasan saham dari pemegang saham lama. Porsi saham yang dilepas ke publik (free float), kebijakan dividen, hubungan dengan BRI sebagai induk, serta perlindungan terhadap pemegang saham minoritas juga akan menjadi perhatian utama.

Mengenai waktu eksekusi, Ekky berpendapat bahwa IPO Pegadaian tidak perlu dipaksakan pada tahun 2026. Pasar masih menghadapi tantangan, dan investor asing cenderung mengurangi eksposur terhadap saham-saham di Indonesia. "Waktu yang lebih ideal mungkin berada pada tahun 2027, setelah laporan keuangan penuh tahun 2026 tersedia. Ini akan memungkinkan pasar untuk melihat keberlanjutan pertumbuhan pembiayaan, kualitas aset, serta kontribusi bisnis bullion secara lebih jelas," pungkasnya.

Jika keberatan atau harus diedit baik Artikel maupun foto Silahkan Laporkan! Terima Kasih

Tags:

Ikutikami :

Tinggalkan komentar