Haluannews Ekonomi – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kembali terperosok dalam tekanan signifikan pada perdagangan hari ini, Jumat (6/6/2026), setelah sempat mencatat kenaikan positif sehari sebelumnya. Indeks acuan bursa domestik ini menutup sesi pertama dengan koreksi tajam, kehilangan 201,44 poin atau setara 2,61%, dan parkir di level 7.509,10.

Related Post
Penurunan ini menandai pembalikan arah yang drastis setelah kemarin IHSG berhasil menguat 1,76%. Data perdagangan yang dihimpun oleh Haluannews.id menunjukkan bahwa mayoritas saham mengalami pelemahan, dengan 676 emiten ditutup di zona merah, sementara hanya 101 saham yang berhasil menguat dan 181 lainnya stagnan. Aktivitas transaksi cukup tinggi, mencapai Rp 9,39 triliun, melibatkan perputaran 17,45 miliar saham dalam 1,17 juta kali transaksi. Imbasnya, kapitalisasi pasar turut menyusut menjadi Rp 13.392 triliun.

Berdasarkan pantauan Refinitiv, seluruh sektor industri terpantau berada di wilayah negatif. Sektor konsumer non-primer memimpin penurunan dengan koreksi 4,32%, disusul oleh sektor utilitas yang anjlok 3,51%, dan sektor energi yang juga tertekan 3,18%.
Pelemahan IHSG secara signifikan dipicu oleh saham-saham berkapitalisasi besar, terutama dari sektor perbankan jumbo, serta emiten-emiten di sektor energi dan komoditas. Beberapa nama besar yang sahamnya menjadi pemberat utama indeks termasuk entitas yang terafiliasi dengan grup Sinar Mas, Bakrie, dan Prajogo Pangestu.
Di tengah gejolak pasar domestik, investor asing terpantau melakukan aksi jual bersih (net sell) senilai Rp 83,8 miliar pada sesi pertama perdagangan hari ini.
Kontras dengan kondisi domestik, bursa-bursa utama di Asia menunjukkan tanda-tanda pemulihan. Setelah sempat dibuka melemah di pagi hari, indeks Kospi Korea Selatan berbalik menguat 0,22%, Nikkei Jepang naik 0,62%, dan Hang Seng Index (HSI) Hong Kong melonjak 1,87%.
Namun, pasar keuangan Indonesia masih harus menghadapi bayang-bayang sentimen negatif yang cukup berat. Eskalasi konflik antara Amerika Serikat-Israel dan Iran, lonjakan harga minyak mentah global, serta proyeksi ekonomi terbaru dari Tiongkok menjadi faktor-faktor pemicu kekhawatiran investor.
Harga minyak mentah dunia melonjak drastis, mencapai level tertinggi dalam beberapa waktu terakhir, di tengah kekhawatiran gangguan pasokan energi global akibat memanasnya perang di Timur Tengah. Minyak jenis Brent ditutup pada posisi US$ 84 per barel, melonjak hampir 4%, sementara minyak West Texas Intermediate (WTI) melesat 8,5% ke level US$ 81,01 per barel. Kenaikan ini merupakan yang tertinggi sejak periode Juli 2024. Situasi di Selat Hormuz juga masih tegang, dengan lalu lintas kapal tanker yang sebagian besar terhenti, diperparah oleh klaim Iran yang berhasil menghantam sebuah kapal tanker minyak dengan rudal.
Editor: Rohman










Tinggalkan komentar