haluannews.id – Konsumsi rumah tangga tetap menjadi motor penggerak utama perekonomian Indonesia, menyumbang lebih dari separuh Produk Domestik Bruto (PDB) nasional hingga kuartal kedua 2026. Dinamika ini secara langsung memacu pertumbuhan sektor makanan dan minuman, membawa dampak positif bagi industri turunannya. Namun, di balik geliat tersebut, sektor bisnis es krim justru menunjukkan pergerakan yang cenderung stagnan, baik dari sisi nilai maupun volume penjualan.

Related Post
Adji Andjono, Direktur PT Campina Ice Cream Industry Tbk (CAMP), mengungkapkan bahwa posisi es krim yang bukan merupakan kebutuhan pokok masyarakat menjadi salah satu faktor utama di balik stagnasi ini. Untuk mendongkrak penjualan, industri es krim sangat bertumpu pada momentum musiman seperti perayaan Idul Fitri, libur panjang anak sekolah, serta periode Natal dan Tahun Baru. Strategi penjualan juga difokuskan pada jaringan ritel, mulai dari minimarket modern hingga warung kelontong tradisional, dengan pendekatan yang disesuaikan untuk setiap segmen konsumen.

Di sisi lain, industri es krim dihadapkan pada sejumlah tantangan berat. Ketergantungan terhadap bahan baku impor menjadi duri dalam daging, terutama di tengah fluktuasi dan tekanan nilai tukar Rupiah yang terus mengintai. Selain itu, biaya distribusi untuk menjangkau pasar di luar Pulau Jawa juga terus merangkak naik, dipicu oleh lonjakan harga bahan bakar.
Bagaimana industri es krim dapat menavigasi ketidakpastian ekonomi global dan domestik di tahun 2026? Wawasan mendalam mengenai tantangan dan prospek industri es krim ini disampaikan langsung oleh Direktur PT Campina Ice Cream Industry Tbk, Adji Andjono, dalam sebuah wawancara eksklusif di haluannews.id pada Rabu 2 September 2026.










Tinggalkan komentar