haluannews.id – Bursa saham Jakarta hari ini kembali memukau investor Indeks Harga Saham Gabungan IHSG melesat tajam lebih dari satu persen setelah sempat tertekan sehari sebelumnya. Kenaikan signifikan ini tak lepas dari performa gemilang saham-saham berkapitalisasi besar yang menjadi penopang utama.

Related Post
Pada perdagangan Kamis 3 September 2026 IHSG dibuka menguat 6778 poin atau setara 103 persen mencapai level 666356. Angka ini melonjak dari penutupan sebelumnya di 659578. Total nilai transaksi mencapai sekitar Rp 996 triliun dengan volume perdagangan fantastis 2356 miliar saham dan frekuensi 145 juta kali transaksi.

Hampir seluruh sektor menunjukkan tren positif hari ini. Sektor properti energi dan barang baku memimpin penguatan sementara hanya sektor konsumer non primer yang harus rela berada di zona merah.
Deretan emiten berkapitalisasi pasar jumbo atau big caps menjadi motor penggerak utama lonjakan IHSG. Sebut saja Bank Mandiri BMRI Astra International ASII Amman Mineral Internasional AMMN CPIN dan Bank Negara Indonesia BBNI yang kompak menunjukkan kinerja impresif.
Di tengah euforia pasar domestik sejumlah sentimen global tetap menjadi perhatian serius pelaku pasar. Eskalasi konflik antara Amerika Serikat dan Iran kembali memicu kekhawatiran akan gangguan pasokan energi yang berujung pada kenaikan harga minyak dan inflasi global. Tekanan juga datang dari tingginya imbal hasil obligasi global di mana yield Treasury AS 10 tahun sempat menyentuh 4818 persen.
Kondisi serupa terlihat di pasar obligasi negara lain. Imbal hasil surat utang Jepang tenor 10 tahun menembus 3 persen pertama kalinya dalam tiga dekade terakhir. Sementara itu yield obligasi Jerman dan Inggris juga mencapai level tertinggi sejak 2011 dan 2008. Pasar juga terus mencermati arah kebijakan bank sentral AS The Fed setelah data tenaga kerja menunjukkan penambahan pekerjaan swasta yang lebih rendah dari ekspektasi.
Dari dalam negeri sentimen positif berhembus dari pernyataan Gubernur Bank Indonesia BI Destry Damayanti. Ia menegaskan stabilitas ekonomi akan tetap menjadi prioritas utama BI untuk periode 2026-2031 di tengah ketidakpastian global yang masih membayangi.
Selain itu perkembangan kebijakan pemerintah di sektor energi dan perbankan juga tak luput dari pantauan investor. Kenaikan harga avtur Pertamina mulai September serta pencabutan izin usaha satu BPR Syariah oleh Otoritas Jasa Keuangan OJK menjadi beberapa isu domestik yang turut mempengaruhi dinamika pasar.








Tinggalkan komentar