haluannews.id – PT Kimia Farma Persero Tbk KAEF kini tengah menjadi sorotan positif setelah berhasil membukukan keuntungan signifikan. Perusahaan farmasi pelat merah ini menunjukkan taringnya kembali dengan mencatatkan laba bersih sebesar Rp5407 miliar pada semester pertama 2026 sebuah pencapaian luar biasa setelah periode kerugian yang cukup panjang. Transformasi bisnis menyeluruh yang didukung penuh oleh Danantara sebagai pemegang saham pengendali menjadi kunci utama di balik kebangkitan KAEF.

Related Post
Manajemen KAEF di bawah kepemimpinan Direktur Utama Djagad Prakasa Dwialam secara agresif melakukan pembenahan fundamental. Fokusnya meliputi restrukturisasi keuangan penyesuaian portofolio produk peningkatan efisiensi operasional digitalisasi sistem serta penyelesaian berbagai kewajiban strategis dari masa lalu. Langkah-langkah ini bertujuan membentuk "Kimia Farma Baru" yang jauh lebih kokoh transparan terdigitalisasi dan berorientasi pada profitabilitas yang terukur.

Djagad Prakasa Dwialam mengungkapkan rasa terima kasihnya atas dukungan Danantara yang memungkinkan percepatan eksekusi transformasi ini. "Dukungan Danantara adalah katalisator penting bagi kami" ujar Djagad dalam keterangan resminya Kamis 3 September 2026. Ia menambahkan bahwa manajemen baru telah menganalisis dan mengambil pelajaran berharga dari beban masa lalu akibat investasi berlebih dan sistem pengawasan yang lemah. "Kami telah menerapkan tindakan korektif dan preventif secara menyeluruh yang kini berjalan optimal" tegasnya.
Hasil nyata dari pembenahan ini terlihat jelas pada kinerja finansial KAEF. Setelah sukses menekan rugi bersih dari Rp842 miliar pada tahun 2024 menjadi Rp3349 miliar di tahun 2025 perseroan kini berhasil membalikkan keadaan dengan meraup laba bersih. Tak hanya itu penjualan neto KAEF juga tumbuh 76 persen mencapai Rp470 triliun pada semester I-2026 dibandingkan Rp436 triliun pada periode yang sama tahun sebelumnya. Laba usaha bahkan melonjak fantastis 1113 persen menjadi Rp15221 miliar dari sebelumnya Rp7201 miliar.
Djagad menegaskan bahwa perbaikan kinerja ini menjadi prasyarat krusial untuk melangkah ke terobosan bisnis selanjutnya memastikan KAEF terus menjadi pilar utama pelayanan kesehatan di Indonesia. "Kami berterima kasih kepada Danantara yang memberikan ruang bagi manajemen untuk melakukan berbagai inisiatif bisnis dan memperbaiki diri. Ini bukan perjalanan mudah namun berkat kolaborasi semua pihak KAEF mulai bangkit dari kesulitan dan kini dalam kondisi yang jauh lebih baik" paparnya.
Pesan dari COO Danantara Dony Oskaria juga menjadi panduan penting bagi manajemen KAEF. Berbagai upaya korektif dan preventif terus dijalankan agar kesalahan di masa lalu tidak terulang. Salah satu contohnya adalah restrukturisasi strategi produksi untuk mengatasi isu inefisiensi pabrik dan rendahnya tingkat pengembalian investasi ROI. KAEF kini memprioritaskan kapasitas produksi pada produk unggulan bermargin tinggi dengan kepastian serapan pasar yang kuat. Strategi rasionalisasi portofolio ini terbukti meningkatkan utilisasi fasilitas produksi secara efisien. Selain itu penggunaan bahan baku obat BBO dalam negeri juga terus digenjot.
Di sisi lain manajemen KAEF juga telah menyempurnakan sistem pelaporan dan inventori anak usahanya Kimia Farma Apotek. Meninggalkan metode pencatatan manual yang rentan kesalahan KAEF kini mengoperasikan sistem IT terintegrasi secara menyeluruh end-to-end yang menghubungkan ribuan apotek di seluruh Indonesia secara real-time. Digitalisasi tata kelola ini menjamin setiap alur distribusi obat dan ketersediaan stok dapat terlacak dengan akurasi tinggi di setiap tingkatan manajemen.
"Kimia Farma yang baru adalah entitas yang transparan rasional dalam berekspansi dan berfokus penuh pada fundamental operasional" tutup Djagad. "Kami berkomitmen menjaga momentum positif ini untuk memastikan KAEF terus menjadi tulang punggung ketahanan kesehatan nasional yang tangguh secara finansial dan terdepan dalam melayani kesehatan masyarakat Indonesia."








Tinggalkan komentar