haluannews.id – Wall Street diguncang oleh kisah dramatis Leopold Aschenbrenner, seorang "nabi" kecerdasan buatan (AI) yang mendadak kehilangan dana kelolaan fantastis senilai Rp534 triliun hanya dalam hitungan hari. Reputasi cemerlang pemuda 25 tahun ini, yang sebelumnya dielu-elukan sebagai visioner investasi AI, kini diuji oleh gejolak pasar yang tak terduga.

Related Post
Semua bermula ketika Aschenbrenner, mantan karyawan OpenAI, melambung namanya berkat esai setebal 165 halaman berjudul "Situational Awareness: The Decade Ahead" pada tahun 2024. Tulisan itu meramalkan arah perkembangan AI dan menarik perhatian investor kakap. Berbekal nama besar itu, dana kelolaan hedge fund Situational Awareness miliknya melonjak drastis, dari sekitar US$1,5 miliar pada pertengahan tahun lalu menjadi lebih dari US$45 miliar atau setara Rp801 triliun pada awal Juli 2026.

Strategi investasinya sangat agresif: menempatkan posisi beli besar-besaran pada saham-saham yang dianggap "pemenang" di sektor AI, seperti produsen chip, sambil melakukan penjualan pendek (short selling) pada saham perusahaan perangkat lunak yang diperkirakan akan tergerus oleh inovasi AI. Untuk melipatgandakan taruhannya, Situational berani menggunakan utang hingga US$3 untuk setiap US$1 modalnya sendiri, ditambah instrumen derivatif kompleks bernama "flex options". Beberapa bank raksasa seperti Goldman Sachs, JPMorgan, Bank of America, dan Citigroup ikut mendanai, meskipun Jefferies dan Barclays menolak karena menilai portofolio Situational terlalu terkonsentrasi dan sarat risiko utang.
Titik balik terjadi pada pertengahan Juli. Kemunculan model AI sumber terbuka yang lebih murah dari Tiongkok tiba-tiba mengubah sentimen pasar. Saham-saham andalan Situational seperti Bloom Energy, Sandisk, dan Nebius terjun bebas. Ironisnya, saham-saham yang mereka jual pendek, seperti Adobe, AppLovin, dan Figma, justru menguat tajam. Situasi ini menciptakan kerugian ganda yang memperparah kondisi keuangan fund.
Pada 24 Juli, Situational mengirim laporan kepada investor yang mengakui kerugian di bulan tersebut, namun anehnya menyebutnya sebagai "waktu yang tepat" untuk menambah dana. Klaim tersebut gagal meredam kepanikan. Klien berbondong-bondong menghubungi kantor Situational menanyakan kabar. Sepekan berikutnya, saham-saham incaran fund itu anjlok 9-24%, dan menjadi rahasia umum di Wall Street bahwa ada dana besar yang sedang "degrossing" atau terpaksa menjual aset demi menurunkan risiko dan rasio utang.
Pada Rabu, 29 Juli, tim Aschenbrenner memutar otak mencari dana tunai. Mereka mendekati sejumlah investor besar seperti Sequoia, Greenoaks, firma keluarga Michael Dell (DFO Management), hingga XN untuk menjual sebagian saham Anthropic senilai US$5 miliar dengan diskon 20%. Batas waktu yang diberikan sangat ketat, hanya 12 jam. Greenoaks bahkan bekerja keras semalaman untuk menyiapkan transaksi yang dijadwalkan rampung pukul 8 pagi keesokan harinya, lengkap dengan restu dari Anthropic.
Namun, di balik layar, Situational juga menjalankan negosiasi rahasia lain dengan Citadel dan Millennium Management untuk menjual mayoritas portofolio saham likuidnya. Ken Griffin, bos Citadel, bahkan turun tangan langsung dari London. Ketika Citadel akhirnya memenangkan kesepakatan dengan diskon sekitar 10% dari harga pasar pada dini hari 30 Juli, Aschenbrenner secara sepihak membatalkan rencana penjualan saham Anthropic. Keputusan ini sontak membuat sejumlah calon investor yang sudah siap bertransaksi merasa geram.
Situational dan Citadel baru selesai menandatangani dokumen sekitar pukul 9:10 pagi, hanya 20 menit sebelum pasar saham AS dibuka. Tak lama kemudian, Situational mengumumkan berita pahit kepada para investornya: dana ini rugi sekitar 67% sepanjang Juli, setara sekitar US$30 miliar atau Rp534 triliun. Meskipun demikian, fund ini masih mencatat keuntungan 80% sepanjang tahun berjalan. Jane Street, salah satu investor Situational, ikut menanggung kerugian sekitar US$15 miliar akibat kekacauan ini.
Di tengah badai finansial yang melanda, akhir pekan yang sama Aschenbrenner justru melangsungkan pernikahan dengan Avital Balwit, kepala staf CEO Anthropic Dario Amodei, dalam upacara tepi pantai di Carmel, California. Dalam salah satu pidato pernikahan, terselip gurauan satir yang berterima kasih kepada Ken Griffin dan Citadel "karena telah memungkinkan hari ini terjadi".
Kini, dana kelolaan Situational menyusut drastis menjadi sekitar US$15 miliar atau sekitar Rp267 triliun. Aschenbrenner dan timnya tengah menemui satu per satu klien untuk menjelaskan penyebab kerugian sekaligus melakukan evaluasi menyeluruh atas manajemen risiko mereka ke depan. Perlahan, fund ini mulai membangun ulang portofolio, termasuk menyuntik dana US$400 juta ke startup Source Foundry dan membeli saham SharonAI.
Kisah Situational Awareness kembali menjadi pengingat pasar akan bahaya penggunaan utang berlebihan di industri hedge fund, beberapa tahun setelah keruntuhan Archegos Capital yang sempat mengguncang Wall Street. Bedanya kali ini, sang manajer dana tidak sampai gulung tikar, bahkan sempat merayakan pernikahan di tengah gejolak terbesar dalam kariernya.










Tinggalkan komentar