BWPT Ungkap Fakta Mengejutkan Soal Dana Felda

BWPT Ungkap Fakta Mengejutkan Soal Dana Felda

haluannews.id – Emiten perkebunan sawit PT Eagle High Plantations Tbk (BWPT), yang terafiliasi dengan pengusaha Peter Sondakh, akhirnya angkat bicara terkait polemik investasi Felda (Federal Land Development Authority), sebuah lembaga pemerintah Malaysia. Perseroan menegaskan posisinya di tengah pusaran isu sengketa investasi yang berpotensi merugikan Felda hingga triliunan rupiah.

COLLABMEDIANET

Manajemen BWPT menjelaskan bahwa berdasarkan catatan administrasi kepemilikan saham perseroan, Felda Investment Corporation Sdn Bhd (FICP) adalah entitas yang terdaftar sebagai pemegang saham resmi BWPT, bukan Felda secara langsung. Dalam hubungan korporasi dan komunikasi dengan para pemegang saham, BWPT menyatakan hanya berinteraksi dengan FICP sebagai pemilik saham perseroan.

BWPT Ungkap Fakta Mengejutkan Soal Dana Felda
Gambar Istimewa : awsimages.detik.net.id

BWPT secara tegas menyatakan tidak memiliki ikatan korporasi maupun perjanjian kontraktual dengan Felda terkait kepemilikan sahamnya. Lebih lanjut, BWPT menggarisbawahi bahwa FICP merupakan badan hukum mandiri yang berbeda dan terpisah dari Felda. Oleh karena itu, perseroan tidak berwenang untuk mengonfirmasi atau memberikan penjelasan mengenai informasi yang bersumber dari atau berkaitan dengan urusan internal Felda.

Perseroan juga menegaskan bahwa mereka tidak menanggung kewajiban atau risiko, baik secara langsung maupun tidak langsung, terhadap dugaan kerugian Felda yang disebut mencapai sekitar 2,5 miliar ringgit Malaysia atau lebih dari Rp10 triliun dengan asumsi kurs Rp4.300 per ringgit. Felda bukan pemegang saham BWPT dan perseroan tidak memiliki hubungan kontraktual dengan Felda terkait transaksi yang menjadi sorotan tersebut. "Felda bukan pemegang saham Perseroan dan Perseroan tidak memiliki hubungan kontraktual dengan Felda terkait transaksi dimaksud. Oleh karena itu, nilai potensi kerugian yang diberitakan tersebut bukan merupakan kewajiban atau tanggung jawab Perseroan," demikian pernyataan BWPT dikutip dari keterbukaan informasi Bursa Efek Indonesia pada Jumat, 28 Agustus 2026.

Mengenai penyelesaian masalah terkait hak opsi jual (put option) yang disebut telah dilaksanakan pada tahun 2022, BWPT menyatakan tidak melakukan komunikasi dengan FICP untuk menyelesaikan persoalan tersebut. Hal ini karena perseroan bukan merupakan pihak dalam ikatan kontraktual atau perjanjian yang mendasari opsi jual tersebut.

Meski demikian, komunikasi antara BWPT dan FICP tetap berjalan harmonis dan konstruktif dalam kapasitas FICP sebagai pemegang saham perseroan. Jalinan hubungan ini terlihat dari kehadiran dua perwakilan FICP yang saat ini menjabat sebagai anggota Dewan Komisaris BWPT. Perseroan juga belum menerima kabar signifikan dari FICP mengenai perkembangan material terkait permasalahan tersebut yang dapat memengaruhi langsung kinerja operasional maupun kondisi finansial perseroan.

Sebelumnya, Perdana Menteri Malaysia Datuk Seri Anwar Ibrahim dilaporkan telah melayangkan surat kepada Presiden Prabowo Subianto untuk memohon dukungan dalam penyelesaian polemik investasi Felda di BWPT. Anwar menyebut investasi ini berisiko menyebabkan kerugian finansial bagi Felda hingga RM2,5 miliar atau sekitar Rp10,75 triliun dengan asumsi kurs Rp4.300 per ringgit.

Menurut pemberitaan sebelumnya, dana yang mungkin masih bisa diselamatkan dari persoalan tersebut diperkirakan hanya sekitar RM200 juta. Kerugian itu disebut berasal dari kebijakan manajemen Felda di era sebelumnya terkait investasi di saham BWPT. "Investasi ini sedang bergulir di ranah hukum di Indonesia. Saya telah menulis surat kepada Presiden Prabowo untuk meminta beliau meninjau ulang masalah ini," kata Anwar dikutip dari Detikcom pada Selasa, 25 Agustus 2026.

Sebagai informasi, Felda merupakan lembaga pemerintah Malaysia yang berfokus pada pengembangan lahan agrikultur, terutama untuk mengangkat taraf hidup masyarakat pedesaan. Pada Desember 2016, Felda melalui FICP mengakuisisi saham Eagle High Plantations di Indonesia senilai US$505,4 juta.

Harga akuisisi tersebut sebelumnya menuai banyak kritik karena dianggap kemahalan dibanding valuasi pasar dan pergerakan harga saham setelah transaksi dilakukan. Anwar pun menggarisbawahi urgensi bagi seluruh jajaran manajemen Felda untuk memahami besarnya persoalan yang dihadapi dalam langkah-langkah pemulihan institusi tersebut.

Hingga 26 Agustus 2026, FICP masih menguasai sebanyak 37 persen saham perseroan. Jumlah itu mendekati porsi kepemilikan sang pengendali BWPT, yaitu PT Rajawali Capital International sebanyak 37,7 persen.

Jika keberatan atau harus diedit baik Artikel maupun foto Silahkan Laporkan! Terima Kasih

Tags:

Ikutikami :

Tinggalkan komentar