Modal Bumbu Dapur, Kini Jadi Raja Kaya RI!

Modal Bumbu Dapur, Kini Jadi Raja Kaya RI!

Haluannews Ekonomi – Kisah inspiratif datang dari Prajogo Pangestu, yang kini dinobatkan sebagai orang terkaya nomor wahid di Indonesia. Berdasarkan data Forbes Real Time Billionaires per 12 Juli 2024, total kekayaannya mencapai US$ 27,8 miliar atau sekitar Rp 450,3 triliun. Angka fantastis ini menempatkannya di posisi ke-71 sebagai individu terkaya di dunia.

COLLABMEDIANET

Lonjakan kekayaan Prajogo dalam setahun terakhir dipicu oleh performa ciamik saham-saham perusahaan yang berada di bawah naungannya. Sebut saja PT Barito Pacific Tbk (BRPT), PT Petrindo Jaya Kreasi Tbk (CUAN), dan PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN), yang menjadi mesin pendorong utama.

Modal Bumbu Dapur, Kini Jadi Raja Kaya RI!
Gambar Istimewa : awsimages.detik.net.id

Perjalanan bisnis Prajogo Pangestu dimulai dari titik yang sangat sederhana. Lahir dari keluarga pedagang karet, ia hanya mengenyam pendidikan hingga jenjang sekolah menengah pertama karena keterbatasan ekonomi. Sempat berjualan bumbu dapur dan ikan asin untuk menyambung hidup, takdir membawanya bertemu dengan pengusaha kayu asal Malaysia, Burhan Uray.

Pada tahun 1969, Prajogo memutuskan untuk bergabung dengan PT Djajanti Grup milik Burhan Uray. Berkat etos kerja yang tinggi dan dedikasi yang luar biasa, dalam waktu tujuh tahun, Prajogo berhasil menduduki posisi General Manager Pabrik Plywood Nusantara.

Namun, jiwa entrepreneurship Prajogo tak bisa dibendung. Setelah setahun menjabat sebagai GM, ia memutuskan untuk mengundurkan diri dan membeli perusahaan yang tengah mengalami kesulitan keuangan, CV Pacific Lumber Coy.

Dengan keberanian dan keyakinan, Prajogo meminjam dana dari bank untuk mengakuisisi perusahaan kayu tersebut. Hebatnya, pinjaman tersebut berhasil dilunasi hanya dalam waktu satu tahun. CV Pacific Lumber Coy inilah yang kemudian bertransformasi menjadi PT Barito Pacific, yang pada era Orde Baru menjadi perusahaan kayu terbesar di Indonesia.

Kesuksesan di industri kayu tak membuat Prajogo berpuas diri. Ia terus berekspansi ke sektor lain, mendirikan PT Chandra Asri Petrochemical Center dan PT Tri Polyta Indonesia Tbk. Barito Pacific Timber kemudian melakukan Initial Public Offering (IPO) pada tahun 1993 dan berganti nama menjadi Barito Pacific setelah mengurangi bisnis kayunya pada tahun 2007.

Pada tahun 2007, Barito Pacific mengakuisisi 70% saham perusahaan petrokimia Chandra Asri, yang juga tercatat di Bursa Efek Indonesia (BEI). Pada tahun 2011, Chandra Asri bergabung dengan Tri Polyta Indonesia, menciptakan produsen petrokimia terintegrasi terbesar di Indonesia. Thaioil mengakuisisi 15% saham Chandra Asri pada Juli 2021.

Prajogo juga berhasil membawa dua perusahaannya, CUAN dan BREN, melantai di bursa saham pada tahun 2023, semakin mengukuhkan posisinya sebagai salah satu pemain utama di pasar modal Indonesia.

Editor: Rohman

Jika keberatan atau harus diedit baik Artikel maupun foto Silahkan Laporkan! Terima Kasih

Tags:

Ikutikami :

Tinggalkan komentar