Misteri Rupiah Tetap Stabil Hingga 2027

Misteri Rupiah Tetap Stabil Hingga 2027

haluannews.id – Pemerintah Indonesia menunjukkan sikap optimisme yang tinggi terkait stabilitas nilai tukar mata uang Garuda di tengah gejolak pasar global. Meski saat ini rupiah tengah menghadapi tekanan hebat terhadap dolar Amerika Serikat (AS), pemerintah menegaskan tidak akan mengubah asumsi makro dalam Rancangan Undang-Undang (RUU) APBN 2027.

COLLABMEDIANET

Dalam dokumen perencanaan anggaran tersebut, pemerintah telah menetapkan angka patokan nilai tukar rupiah di level Rp17.500 per dolar AS. Angka ini akan menjadi acuan utama dalam pelaksanaan kebijakan fiskal dan ekonomi nasional hingga tahun 2027 mendatang. Keputusan ini diambil meskipun realitas di pasar menunjukkan pergerakan rupiah yang cukup fluktuatif dan cenderung melemah.

Misteri Rupiah Tetap Stabil Hingga 2027
Gambar Istimewa : awsimages.detik.net.id

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto, menyatakan bahwa pemerintah merasa percaya diri dengan proyeksi tersebut. Menurutnya, tidak ada alasan mendesak untuk merombak angka asumsi makro yang telah disusun. "Tidak diganti, optimis," ujar Airlangga saat memberikan keterangan di kawasan Istana Negara, Jakarta.

Airlangga menjelaskan bahwa jika ditinjau dari sisi fundamental ekonomi, kondisi Indonesia sebenarnya berada dalam posisi yang cukup kuat untuk menjaga stabilitas kurs. Ia menilai, tekanan yang terjadi pada rupiah saat ini lebih banyak dipicu oleh faktor-faktor eksternal yang bersifat sentimental, bukan karena kerusakan pada struktur ekonomi domestik.

"Jika kita melihat kondisi makro, sebenarnya cukup baik. Namun, memang selalu ada faktor di luar fundamental, seperti faktor sentimen pasar. Kita harus mampu menyeimbangkan hal tersebut," tambahnya.

Kondisi pasar saat ini memang sedang tidak menentu. Pada pembukaan perdagangan Selasa (29/9/2026), rupiah tercatat kembali mengalami tekanan. Berdasarkan data dari Refinitiv, mata uang nasional sempat melemah tipis 0,03% ke posisi Rp17.970 per dolar AS. Angka ini menunjukkan bahwa rupiah sedang berjuang keras untuk menjauhi level psikologis Rp18.000 per dolar AS.

Pelemahan ini merupakan kelanjutan dari tren negatif yang terjadi pada hari sebelumnya. Pada perdagangan Senin (28/9/2026), rupiah sempat terdepresiasi sebesar 0,48% dan ditutup di level Rp17.965 per dolar AS. Tekanan ini diperparah oleh penguatan indeks dolar AS (DXY) yang mengukur kekuatan mata uang Amerika terhadap enam mata uang utama dunia. Indeks DXY terpantau bergerak naik, yang secara otomatis memberikan tekanan tambahan bagi mata uang negara-negara berkembang, termasuk Indonesia.

Meskipun tantangan di pasar valuta asing terlihat berat, pemerintah tetap berpegang pada strategi jangka panjang. Dengan menjaga asumsi makro tetap konsisten, pemerintah berharap dapat memberikan kepastian bagi pelaku usaha dan menjaga stabilitas perencanaan anggaran negara dalam menghadapi ketidakpastian ekonomi global.

Jika keberatan atau harus diedit baik Artikel maupun foto Silahkan Laporkan! Terima Kasih

Tags:

Ikutikami :

Tinggalkan komentar