haluannews.id – Gelombang kekhawatiran menyapu bursa saham Asia pada pembukaan perdagangan pagi ini Jumat 24 Agustus 2026. Sentimen negatif ini dipicu oleh lonjakan harga minyak mentah global yang kembali menembus level psikologis US$100 per barel ditambah dengan memanasnya tensi geopolitik antara Iran dan Amerika Serikat. Investor tampak panik melepas aset berisiko di tengah ketidakpastian yang membayangi.

Related Post
Indeks-indeks utama di kawasan Asia Pasifik kompak terjerembab ke zona merah. Di Jepang, Nikkei 225 anjlok 1,2% disusul indeks Topix yang melemah 1%. Kondisi serupa juga terlihat di Korea Selatan di mana indeks Kospi merosot 1,8% sementara indeks saham berkapitalisasi kecil Kosdaq bahkan ambles lebih dalam sebesar 2,17%. Pasar saham Australia pun tak luput dari tekanan, dengan indeks acuan S&P/ASX 200 terkoreksi 0,47%. Proyeksi pasar berjangka juga menunjukkan tren negatif, dengan kontrak Hang Seng Hong Kong berada di 24.885, jauh di bawah penutupan sebelumnya, dan kontrak S&P/ASX 200 Australia diperdagangkan di 8.750, lebih rendah dari penutupan 8.839.

Pemicu utama gejolak ini adalah harga minyak mentah Brent yang melonjak drastis, menembus angka US$100 per barel untuk pertama kalinya sejak akhir Mei 2026. Kenaikan fantastis sekitar 7% dalam semalam ini sontak mengejutkan pasar. Tak hanya Brent, harga kontrak berjangka West Texas Intermediate (WTI) juga melambung sekitar 6% pada hari yang sama. Kenaikan tajam ini tak lepas dari laporan serangan terhadap dua kapal tanker minyak Arab Saudi di Laut Merah, memicu kekhawatiran serius akan gangguan pasokan global.
Adam Turnquist, Kepala Strategi Teknis di LPL Financial, seperti dikutip dari sumber internasional, Jumat (24/8/2026), mengungkapkan bahwa kondisi pasar saat ini belum sepenuhnya mencerminkan potensi kenaikan harga minyak yang berkelanjutan. Namun, ia memperingatkan bahwa pasar memasuki fase eskalasi terbaru ini dalam keadaan yang kurang siap menghadapi kejutan lonjakan harga. "Ketika sentimen dan posisi pasar sangat pesimis, bahkan penurunan ekspektasi pasokan yang moderat sekalipun dapat memicu respons harga yang luar biasa," jelas Turnquist, menggarisbawahi sensitivitas pasar terhadap berita pasokan di tengah sentimen bearish.










Tinggalkan komentar