haluannews.id – Harga minyak dunia kembali melambung tinggi pada perdagangan Rabu pagi (22/7/2026), memicu kekhawatiran global seiring memanasnya konflik di kawasan Timur Tengah. Gejolak geopolitik ini menjadi pendorong utama lonjakan harga, mengancam stabilitas pasokan energi dunia yang kian rapuh.

Related Post
Mengacu data terbaru Refinitiv hingga pukul 09.30 WIB, harga minyak jenis Brent tercatat di level US$92,13 per barel, melonjak 1,23% dari penutupan sebelumnya yang berada di US$91,01 per barel. Angka ini menempatkan Brent pada posisi tertinggi dalam lebih dari lima pekan terakhir. Sementara itu, minyak West Texas Intermediate (WTI) juga menguat menjadi US$85,28 per barel, naik 0,44% dari US$84,91 per barel pada Selasa. Sejak penutupan Jumat (17/7/2026), Brent telah meroket sekitar 4,6%, sedangkan WTI naik sekitar 3,4%.

Kenaikan harga ini tak lepas dari eskalasi ketegangan yang kian meruncing di Timur Tengah. Militer Amerika Serikat dilaporkan melanjutkan serangan terhadap target-target militer Iran untuk malam ke-11 secara berturut-turut. Di saat bersamaan, Kuwait mengumumkan berhasil mencegat drone Iran, sebuah insiden yang memperlebar spektrum kekhawatiran pasar akan potensi gangguan serius terhadap aliran pasokan minyak dari wilayah tersebut.
Risiko terhadap jalur pasokan semakin diperparah oleh ancaman dari kelompok Houthi yang didukung Iran. Mereka mengintimidasi kapal-kapal pengangkut minyak Saudi di Selat Bab el-Mandeb dan secara terang-terangan mendeklarasikan blokade laut terhadap Arab Saudi. Jalur strategis ini kini menjadi semakin vital bagi ekspor minyak Saudi, terutama setelah lalu lintas melalui Selat Hormuz mengalami penurunan drastis pasca runtuhnya gencatan senjata antara Amerika Serikat dan Iran di awal bulan ini.
Selain dinamika geopolitik, para pelaku pasar juga mencermati data persediaan minyak Amerika Serikat. Laporan dari American Petroleum Institute (API) menunjukkan adanya peningkatan stok minyak mentah dan produk distilat pada pekan lalu, meskipun persediaan bensin tercatat menurun. Kini, fokus pasar tertuju pada rilis data resmi dari Energy Information Administration (EIA) yang dijadwalkan pada Rabu waktu setempat, untuk mendapatkan gambaran lebih jelas mengenai kondisi permintaan dan pasokan di negeri Paman Sam.
Dengan memanasnya konflik di Timur Tengah, ancaman terhadap rute pelayaran minyak utama, serta penantian data stok minyak AS, volatilitas harga diperkirakan akan tetap tinggi dalam jangka pendek. Selama potensi gangguan pasokan dari kawasan Teluk Persia masih membayangi, pasar minyak akan terus mempertahankan premi risiko pada harga komoditas strategis ini.










Tinggalkan komentar