haluannews.id – Harga minyak global kembali menunjukkan taringnya setelah sempat terpuruk, namun ketegangan geopolitik di Timur Tengah masih menjadi bayang-bayang yang menghantui pasar energi dunia. Spekulasi mengenai meredanya konflik antara Amerika Serikat dan Iran masih menjadi teka-teki, membuat pasokan minyak tetap rentan terhadap gejolak yang tak terduga.

Related Post
Berdasarkan data terkini pada perdagangan terbaru, minyak Brent diperdagangkan di kisaran US$84,21 per barel, naik tipis 0,53% dari penutupan sebelumnya. Sementara itu, minyak West Texas Intermediate (WTI) juga menguat 0,56% menjadi US$80,79 per barel. Kenaikan ini terjadi setelah sehari sebelumnya kedua jenis minyak mentah tersebut anjlok signifikan, mencapai level terendah dalam beberapa pekan terakhir.

Penurunan harga sebelumnya dipicu oleh pernyataan Presiden AS Donald Trump yang mengisyaratkan penundaan serangan militer terhadap Iran, sekaligus membuka pintu dialog untuk mengakhiri perselisihan di Selat Hormuz. Jalur vital ini dikenal sebagai arteri utama perdagangan energi global, di mana sekitar seperlima dari total konsumsi minyak dunia melintas setiap harinya.
Namun, harapan meredanya ketegangan langsung sirna setelah juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmail Baghaei, dengan tegas membantah adanya negosiasi atau jadwal pertemuan dengan pihak AS. Respons ini sontak membuat pelaku pasar kembali cemas, menyadari bahwa ketidakpastian pasokan masih jauh dari kata usai.
Analis pasar, Tim Waterer dari KCM Trade, mengingatkan bahwa penguatan harga minyak saat ini masih sangat rentan. Ia memprediksi, jika eskalasi konflik kembali terjadi atau insiden penyerangan kapal di sekitar Selat Hormuz terulang, harga minyak bisa kembali melambung tinggi secara drastis.
Meskipun data dari Barclays menunjukkan adanya pemulihan aktivitas ekspor energi melalui Selat Hormuz, dengan rata-rata 4,2 juta barel per hari pada akhir Juli, meningkat dari 3,2 juta barel per hari di pekan sebelumnya, ancaman terhadap keamanan pelayaran belum sepenuhnya menghilang. Laporan pengiriman menunjukkan enam kapal tanker super berbendera Arab Saudi memilih jalur memutar melalui Teluk Aden menuju Afrika bagian selatan, menghindari Selat Hormuz yang dianggap berisiko. Sementara itu, dua kapal tanker lainnya tetap melintasi Selat Bab el-Mandeb dengan muatan minyak Saudi.
Lalu lintas kapal di Selat Hormuz pun masih terpantau melambat menyusul laporan serangan terhadap beberapa kapal. Otoritas United Kingdom Maritime Trade Operations (UKMTO) bahkan mencatat insiden sebuah kapal kargo yang dihantam proyektil tak dikenal di perairan timur laut Al Khasab, Oman.
Situasi ini berimbas pada tingginya biaya asuransi pengiriman dan memaksa sejumlah kapal mengambil rute yang lebih panjang dan mahal. Selama dua titik krusial perdagangan energi dunia, yakni Selat Hormuz dan Bab el-Mandeb, masih diselimuti ancaman keamanan, premi risiko geopolitik di pasar minyak diperkirakan akan terus membayangi dan sulit untuk sepenuhnya sirna.










Tinggalkan komentar