Haluannews Ekonomi – Bayangkan, mendadak kaya raya dengan kekayaan mencapai US$745 juta atau sekitar Rp 12,3 triliun (kurs Rp 16.500/US$). Itulah yang dialami Mike dan Kass Lazerow, pasangan pengusaha asal New York setelah menjual perusahaan mereka, Buddy Media, kepada Salesforce. Namun, alih-alih merasakan euforia, mereka justru merasakan kekosongan yang mendalam.

Related Post
Kisah ini bermula dari pesta mewah yang mereka selenggarakan untuk karyawan. Saat Mike naik panggung dan disambut tepuk tangan selama 20 menit, bukan kebahagiaan yang mereka rasakan, melainkan "mati rasa," ungkap Kass (54 tahun) kepada Haluannews.id. Pulang dari pesta dengan Uber, Mike bahkan bertanya, "Besok anak-anak ada janji dengan dokter mana?" Sebuah pertanyaan yang mencerminkan hilangnya fokus dan tujuan hidup mereka.

Perjalanan mereka menuju kesuksesan ini dimulai sejak 2007. Mereka bekerja tanpa henti, bahkan Kass melahirkan anak ketiganya saat Mike tengah mengembangkan ide bisnis Buddy Media. Setelah beberapa kali perubahan strategi ("pivot"), Buddy Media akhirnya sukses besar dengan pendapatan berulang tahunan mencapai setidaknya Rp 825 miliar sebelum akhirnya dijual.
Namun, kebahagiaan finansial tak serta merta membawa kebahagiaan sejati. Kass mengaku butuh waktu setahun dan terapi untuk memproses pencapaian luar biasa tersebut. "Ini seperti PTSD, karena kami tidak bisa memprosesnya sekaligus," ujarnya. Mereka kehilangan tujuan sebagai pengusaha, kebebasan yang mereka cari justru tergantikan dengan kekosongan.
Mike, mantan CEO Buddy Media, beralih ke Salesforce, namun jadwal padat dan kurangnya waktu bersama keluarga berdampak pada kesehatannya. Kass yang bergabung dengan beberapa dewan amal pun merasakan hal serupa; pekerjaan tersebut tak memberikan kepuasan dan tujuan hidup yang dicarinya.
Mereka bukanlah satu-satunya. Haluannews.id juga mencatat kisah serupa dari pengusaha lain seperti Jyoti Bansal yang menyebut penjualan AppDynamics ke Cisco sebagai "hari paling menyedihkan", dan Jake Kassan yang merasa kehilangan arah setelah menjual bisnis jam tangannya.
Untuk mengatasi hal ini, mereka memilih jalan berbeda. Bansal membangun startup baru, Kassan mengembangkan kanal YouTube, sementara Kass dan Mike kembali ke dunia kewirausahaan dengan cara mereka sendiri, mendukung startup lain melalui investasi dan berbagi pengalaman dalam buku baru mereka, "Shoveling S".
Kass mengakui, mengelola perusahaan besar sangat menguras tenaga. Kini, mereka menemukan kebahagiaan dalam mendukung para pendiri bisnis baru, sebuah perjalanan yang memberikan mereka tujuan dan kepuasan yang selama ini mereka cari.
Editor: Rohman










Tinggalkan komentar