haluannews.id – Siapa sangka, di era Hindia Belanda, bisnis es batu menjadi jalan tol menuju kekayaan fantastis. Seorang pengusaha pribumi bernama Tasripin berhasil mengumpulkan harta yang nilainya kini diperkirakan mencapai hampir Rp10 triliun, hanya dari berjualan es. Kisah Tasripin membuktikan bahwa di masa lalu, es bukan sekadar pendingin minuman, melainkan komoditas mewah yang bisa mengubah nasib seseorang menjadi miliarder.

Related Post
Pada awal abad ke-20, ketika teknologi pendingin belum dikenal luas, es adalah barang langka yang sangat dicari. Tasripin, yang wafat pada tahun 1919, meninggalkan warisan kekayaan sebesar 45 juta gulden. Angka ini, menurut laporan koran De Nieuwe Vorstenlanden saat itu, setara dengan kemampuan membeli 750 juta liter beras. Jika dihitung dengan harga beras hari ini sekitar Rp13 ribu per liter, maka harta Tasripin bisa mencapai sekitar Rp9,7 triliun, mendekati angka Rp10 triliun. Sebuah jumlah yang mencengangkan untuk ukuran zaman itu.

Sumber kekayaan Tasripin utamanya berasal dari pabrik es miliknya. Pada tahun 1902, ia telah memiliki pabrik es di Ungaran, Semarang. Delapan tahun kemudian, ia memperluas bisnisnya dengan mendirikan pabrik es yang lebih besar di Petelan, Semarang, yang bahkan dioperasikan langsung olehnya. Es yang diproduksinya selalu laris manis dan dijual dengan harga tinggi, mengingat betapa sulitnya memperoleh pendingin di masa kolonial.
Tak hanya fokus pada es, Tasripin juga menunjukkan kepiawaiannya dalam diversifikasi bisnis. Ia merambah ke usaha rumah penjagalan dan perdagangan kulit hewan, yang semakin melambungkan pundi-pundi kekayaannya. Dari berbagai lini usahanya, Tasripin dilaporkan mampu meraup keuntungan 30 hingga 40 ribu gulden setiap bulannya. Tak heran, ia memiliki banyak properti berupa rumah dan tanah di Semarang, serta jaringan pabrik es yang tersebar luas.
Kisah Tasripin sebagai "raja es" berakhir pada tahun 1919 saat ia meninggal dunia. Meskipun jejak kelanjutan bisnisnya oleh keluarga tidak banyak terekam, namanya tetap tercatat dalam sejarah sebagai salah satu orang pribumi terkaya di Indonesia, yang memulai segalanya dari bisnis es.
Tasripin bukan satu-satunya yang melihat potensi emas dalam bisnis es. Di era yang sama, muncul pula nama Kwa Wan Hong di Semarang, yang meskipun tak sekaya Tasripin, dikenal sebagai pionir industri es di Nusantara. Pada tahun 1895, Kwa mendirikan pabrik es Hoo Hien, yang menggunakan metode inovatif dengan memanfaatkan reaksi kimia campuran garam dan amonia untuk menghasilkan es. Kehadiran pabriknya mengubah kebiasaan masyarakat, membuat es yang semula mahal menjadi lebih terjangkau dan memicu lahirnya industri es krim pertama di masa kolonial. Kwa juga dikenal sebagai sosok yang sangat makmur dengan kepemilikan tanah, rumah, dan pabrik es di berbagai lokasi.
Di Magelang, ada pula Robert Chevalier, yang sukses dengan NV. Magelangsche Ijs en Mineralwater Fabriek sejak 1920. Dengan tiga pabrik es, ia juga berhasil mengumpulkan harta melimpah sebelum akhirnya bangkrut saat Jepang menduduki Indonesia pada tahun 1942.
Kisah Tasripin, Kwa Wan Hong, dan Robert Chevalier adalah bukti nyata bahwa di masa lalu, sebelum kulkas menjadi perabot rumah tangga umum, berjualan es adalah sebuah profesi yang menjanjikan kekayaan luar biasa. Mereka adalah para visioner yang melihat peluang di tengah keterbatasan, mengubah air beku menjadi ladang cuan yang mengubah sejarah ekonomi pribumi.










Tinggalkan komentar