Haluannews Ekonomi – Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (BPI Danantara) memberikan sinyal positif terkait pengajuan pinjaman dana sebesar Rp 8,28 triliun oleh PT Krakatau Steel (Persero) Tbk (KRAS). Suntikan dana ini diharapkan menjadi angin segar bagi restrukturisasi perusahaan baja pelat merah tersebut.

Related Post
Dony Oskaria, Chief Operating Officer Danantara, membenarkan rencana pemberian modal kerja kepada KRAS sebagai bagian dari upaya restrukturisasi yang tengah berjalan. Menurutnya, langkah ini krusial mengingat beban utang yang besar dan dampak kebakaran pabrik tahun lalu.

"Utangnya cukup besar ya. Ini sedang kita lakukan restrukturisasi. dan tahun lalu juga pabriknya kebakar ya, mungkin teman-teman tau juga dan baru aktif kembali itu Desember tahun lalu," ujarnya saat ditemui di JCC Senayan Jakarta, Kamis (9/10).
Namun, Danantara tidak ingin gegabah. Dony menekankan pentingnya perbaikan manajemen secara komprehensif untuk memastikan efektivitas penggunaan dana pinjaman.
"Kita akan menginjek equity, modal kerja buat mereka, tetapi untuk memastikan bahwa modal kerja ini efektif tentu kita perbaiki juga secara komprehensif manajemennya," imbuhnya.
Saat ini, Danantara tengah melakukan kajian mendalam terhadap berbagai aspek bisnis KRAS, mulai dari model bisnis, daya saing, hingga kebutuhan operasional. Tujuannya adalah untuk membenahi operasional bisnis KRAS selama ini.
Sebagai informasi, PT Krakatau Steel (Persero) Tbk (KRAS) sedang mengusulkan permohonan dukungan dana dari BPI Danantara sebesar US$500 juta atau Rp 8,28 triliun (kurs Rp 16.570). Dalam jangka pendek akan dipenuhi dalam bentuk Pinjaman Pemegang Saham (PPS) senilai US$ 250 juta.
Dana tersebut akan digunakan untuk kebutuhan operasional utama, antara lain, pembelian bahan baku berupa slab baja untuk pabrik HSM, hot rolled coil (HRC) dan cold rolled coil full hard (CRC F/H) pabrik CRM PT KBI, HRC pabrik pipa baja PT KPI, serta produk baja turunan.
Manajemen KRAS menjelaskan bahwa dukungan dana dari Danantara akan memungkinkan perusahaan untuk mengurangi ketergantungan pada pembiayaan pihak ketiga yang memiliki tingkat bunga lebih tinggi. Dengan demikian, biaya bahan baku dapat ditekan dan operasional perusahaan dapat berjalan lebih optimal.
Dengan adanya dukungan pembiayaan dari Danantara, KRAS diproyeksikan dapat meningkatkan EBITDA hingga US$ 31,9juta. Ini menunjukkan bahwa dukungan PPS akan menciptakan nilai tambah yang signifikan bagi seluruh entitas.
Manajemen KRAS menegaskan komitmennya untuk memperkuat posisi perusahaan sebagai produsen baja nasional dan meningkatkan daya saing jangka panjang. Fokus utama adalah memperkuat lini produksi baja, khususnya pada unit HSM dan CRM, serta menjalankan program efisiensi biaya secara menyeluruh.
Selain itu, KRAS juga akan mengoptimalkan potensi pasar baja melalui strategi product mix dengan memanfaatkan unique selling point (USP) PTKS yang jarang dapat dipenuhi pemasok domestik lain.
Editor: Rohman










Tinggalkan komentar