haluannews.id – Bank Indonesia (BI) berhasil membalikkan keadaan di tengah gejolak ekonomi global yang tak menentu. Setelah sempat menyaksikan hengkangnya modal asing pada kuartal pertama tahun 2026, kebijakan strategis BI kini membuahkan hasil manis. Tercatat, dana investor luar negeri senilai Rp 105 triliun mengalir deras ke pasar Surat Berharga Negara (SBN) dan Sertifikat Rupiah Bank Indonesia (SRBI) dalam periode Juni hingga awal Juli 2026.

Related Post
Sebelumnya, ketidakpastian global yang tinggi memang sempat menjadi momok bagi pasar keuangan domestik. Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia, Destry Damayanti, dalam forum Investment Forum 2026 yang diselenggarakan haluannews.id di Main Hall Bursa Efek Indonesia (BEI) pada Rabu (15/7/2026), menjelaskan bahwa persepsi risiko yang meningkat di Indonesia memicu keluarnya modal asing, terutama dari sektor saham. "Kami melihat karena memang persepsi sehingga menyebabkan risk premi meningkat di RI," ungkap Destry.

Menyikapi kondisi tersebut, BI tak tinggal diam. Bank sentral mengambil langkah tegas dengan mengerek suku bunga acuan. Kenaikan sebesar 100 basis poin (bps) yang dilakukan sejak Mei hingga Juni 2026 ini bertujuan untuk melakukan repricing atau penyesuaian harga portofolio di pasar uang Indonesia, termasuk instrumen SBN dan SRBI.
Strategi ini terbukti jitu. Data dari BI menunjukkan adanya lonjakan signifikan arus masuk dana asing. Pada Juni hingga awal Juli 2026, SBN berhasil menarik inflow sebesar Rp 33 triliun, sementara SRBI kebanjiran dana Rp 72 triliun. Jika ditotal, angka ini mencapai Rp 105 triliun dalam kurun waktu tersebut.
Destry Damayanti lebih lanjut memaparkan, secara keseluruhan, SBN mencatat arus masuk Rp 17,7 triliun, setelah sempat negatif di kuartal I. Sementara itu, SRBI membukukan inflow fantastis sebesar Rp 174 triliun. Bahkan, pasar saham yang sempat tertekan juga mengalami repricing positif, sehingga menarik dana asing hingga Rp 132 triliun.
Pengalaman menghadapi arus modal keluar sebelumnya, menurut Destry, menegaskan pentingnya upaya BI untuk menjaga persepsi pasar atau anchoring. Langkah ini harus bersifat frontloading, yaitu dilakukan secara proaktif dan antisipatif terhadap kondisi mendatang, termasuk dalam mengelola ekspektasi inflasi. "Ini mendasari juga kami lakukan keputusan itu karena harus ada repricing asset portofolio kita melalui BI Rate," tegas Destry, menjelaskan landasan di balik keputusan BI menaikkan suku bunga.










Tinggalkan komentar