haluannews.id – Chief Executive Officer BPI Danantara Rosan Roeslani angkat bicara menanggapi peringkat Baa2 dengan prospek negatif yang diberikan oleh lembaga pemeringkat Moody’s. Rosan menegaskan bahwa penilaian tersebut bukan cerminan langsung kondisi fundamental Danantara, melainkan lebih terkait dengan peringkat utang negara secara keseluruhan.

Related Post
"Itu kan sovereign rating, ya," jelas Rosan saat ditemui di Kompleks Istana Kepresidenan belum lama ini. Ia menekankan bahwa outlook negatif tersebut merupakan bagian dari penilaian terhadap peringkat kedaulatan Indonesia.

Kekhawatiran akan potensi gangguan terhadap minat investor terhadap obligasi Danantara ditepis Rosan. Justru, penerbitan obligasi global Danantara, baik yang berjangka 5 maupun 10 tahun, mendapat sambutan luar biasa dari pasar internasional. "Responsnya sangat-sangat positif," ujarnya dengan optimis.
Antusiasme pasar terlihat jelas dari serangkaian roadshow yang sukses digelar Danantara di berbagai pusat keuangan dunia. Lebih dari 120 perusahaan turut serta dalam pertemuan di Singapura, Hong Kong, Jepang, Boston, New York, hingga London. Keberhasilan ini tercermin dari yield obligasi yang mencapai 5,35%. Rosan bahkan mengisyaratkan kemungkinan penjajakan penerbitan obligasi jangka panjang di atas 10 tahun.
Laporan Moody’s sendiri mengonfirmasi bahwa peringkat obligasi Danantara sejalan dengan penilaian kredit pemerintah. Hal ini disebabkan oleh keterkaitan erat antara Danantara Investment Management (DIM) sebagai entitas usaha BPI Danantara yang berada di bawah naungan negara. Moody’s memberikan peringkat Baa2 untuk obligasi senior tanpa jaminan DIM dalam mata uang dolar AS, yang diterbitkan berdasarkan program obligasi jangka menengah (MTN) global senilai US$5 miliar, dengan prospek negatif.
Moody’s belum menetapkan penilaian kredit dasar (baseline credit assessment/BCA) untuk DIM. Alasannya, DIM merupakan perusahaan yang relatif baru beroperasi dan belum memiliki rekam jejak yang panjang sebagai entitas mandiri. Oleh karena itu, peringkat yang diberikan lebih didasarkan pada hubungan kuatnya dengan pemerintah, bukan semata-mata kekuatan kredit internalnya.
Meskipun demikian, Moody’s mengakui bahwa DIM memiliki tingkat likuiditas yang solid. Kondisi ini didukung oleh injeksi modal signifikan dari BPI Danantara, seiring upaya DIM untuk membangun sumber pendanaan eksternal, termasuk melalui penerbitan obligasi perdananya beberapa waktu lalu.










Tinggalkan komentar